Karpet merahnya hampir menutupi seluruh lantai. Luas, lapang. Di depannya, cuma ada sebuah meja kecil, sederhana, tempat Al-Quran dan kitab-kitab kuning biasa terbuka setiap malam. Tak ada mimbar tinggi di sini. Jarak antara pengajar dan yang diajar sengaja dihilangkan. Ruangan ini dibiarkan apa adanya, agar ilmu bisa mengalir tanpa sekat.
Di seberang, sebuah lemari menyimpan koleksi kitab para murid. Di bawahnya, rebana-rebana tertata rapi. Mereka diam, tapi seolah menyimpan denyut tradisi yang masih hidup. Ayat-ayat suci di dinding bukan sekadar hiasan; itu pengingat bahwa tempat ini adalah ruang untuk merawat kesalehan, bukan cuma sekadar belajar.
Seorang pria muda menyambut dengan senyum hangat. Wajahnya tenang, bicaranya bersahaja. Dialah Abdullah Kafabihi, atau yang akrab disapa Kafa, sang muassis majelis. Usianya masih 29 tahun.
"Nama majelisnya itu Nurul Majalis," katanya.
Bagi Kafa, nama itu bukan cuma rangkaian kata indah. Ia membawa sanad, jejaring keilmuan yang merentang jauh hingga ke Hadhramaut, Yaman.
"Oh kalau misalkan dari nama Nurul Majalis itu kita dapat nama dari Syeikh Ali bin Abubakar bin Salim di Hadhramaut, Yaman gitu. Waktu itu kita mengadakan pertama kali majelis di bulan puasa kemudian sekaligus pembukaan majelis itu langsung live dari Tarim gitu," ujarnya menjelaskan.
Majelis ini, baginya, jelas bukan kerja satu orang. Ini adalah usaha keluarga, dalam arti yang sebenarnya. Adiknya juga turun mengajar.
"Karena yang mengajar di Majelis Nurul Majalis itu bukan hanya saya pribadi gitu, tetapi adik juga sama mengajar di sana. Dan kebetulan adik yang paling bontot itu lagi menempuh pendidikan di Tarim Hadhramaut," terang dia.
Kini, majelisnya diisi sekitar 60 jemaah. Rentang usianya luas, dari anak SD sampai yang sudah bekerja. Tapi mayoritas adalah anak muda. Wajah-wajah yang di tempat lain mungkin lebih sering nongkrong, di sini memilih duduk bersila, serius mengkaji.
"Jemaahnya kalau misalkan saya lihat itu kan kurang lebih ada 60-an gitu. 60-an dan itu diisi dari mulai anak SD sampai mereka yang sudah bekerja, rata-rata sih anak-anak kecil dan anak muda sih," kata Kafa.
Tapi tentu saja, Nurul Majalis tidak lahir dalam semalam. Kafa bercerita tentang perjuangan awalnya yang dimulai dari langkah-langkah kecil. Ia mendatangi perkumpulan remaja di kampungnya.
"Saya datang ke rumah-rumah mereka gitu kan, mereka punya yang namanya perkumpulan-perkumpulan yang biasa tiap malam itu pada ngerokok pada ngopi gitu kan. Kebetulan saya alumni pondok pesantren di Kudus gitu di Yanbu’ul Qur’an dan mereka mulai mulai ngaji sama saya itu dari Al-Quran gitu," ceritanya.
Jalan itu tidak mulus. Di awal, cuma lima orang yang rutin datang. Butuh tiga tahun kesabaran untuk perlahan-lahan jumlahnya bertambah.
"Nah, beriring berjalannya waktu 3 tahun kemudian alhamdulillah Allah berikan kesempatan di majelis itu membuka, awalnya sih datangnya cuma 5 orang gitu yang bener-bener rutin datang di situ," kenangnya.
Sebagai anak Betawi asli, bagi Kafa ada amanah tak tertulis yang harus dijaga. Baginya, Betawi dan ngaji adalah dua hal yang tak terpisahkan. Awalnya, fokusnya cuma pada baca Al-Qur'an. Tapi kemudian ia merasa perlu lebih. Dari situlah kajian kitab kuning seperti Ta'lim Muta'alim dan Fathul Qarib mulai diperkenalkan.
Responnya? Sangat positif. Menurut Kafa, sebenarnya banyak anak muda yang ingin belajar agama. Cuma, mereka sering malu atau sungkan kalau harus berbaur dengan orang yang jauh lebih tua.
"Mereka tuh sebenarnya pengin ngaji tapi karena ada rasa malu gitu untuk berbaur kepada masyarakat yang memang bukan seusianya sepantarannya gitu," ucapnya.
Itulah kenapa pengajian diadakan malam hari, mulai pukul 20.30. Waktu itu sengaja dipilih agar cocok dengan ritme anak muda yang sibuk sekolah atau kerja seharian.
Metodenya pun ala pesantren salaf. Para murid memegang kitabnya sendiri, lalu bersama-sama memberi makna, kata per kata. "Iya ikut maknain kitabnya," ujar Kafa. Kitab-kitab itu dibeli dari iuran bersama. Dan yang penting, semuanya gratis. Tak ada bisyarah, apalagi gaji untuk pengajar.
"Enggak ada untuk bisyarah gak ada. Gratis semuanya," tegasnya.
Di akhir percakapan, Kafa menyentuh soal zaman now. Tentang AI yang bisa menjawab segalanya. Ia mengingatkan, bertanya soal agama ke kecerdasan buatan mungkin tidak salah, tapi itu tidak cukup.
"Jangan sampai kita menanyakan permasalahan di bidang agama itu kepada AI itu salah apa enggak? Gak salah gitu tapi alangkah lebih baiknya ketika kita memiliki guru," ucap dia.
Harapannya sederhana tapi dalam. Ia ingin para murid di Nurul Majalis nantinya bukan cuma jadi pendengar yang baik. Tapi juga bisa menjadi cahaya sendiri, menerangi yang lain.
"Diharapkan dengan adanya Nurul Majalis itu cahaya di antara para majelis-majelis gitu yang ada di Jakarta khususnya ini anak muda, bukan hanya menjadi apa pendengar dan murid tapi juga mereka juga sanggup menjadi seorang guru gitu yang menerangi," tandasnya.
Jadi, begitulah. Di ruang sederhana berkarpet merah itu, cahaya dirawat pelan-pelan. Bukan dengan teriakan atau panggung megah. Tapi dengan duduk bersila, membuka kitab, dan mengaji bersama.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu