Karpet Merah dan Kitab Kuning: Nurul Majalis, Ruang Bersama Anak Muda Merawat Ilmu

- Minggu, 01 Februari 2026 | 20:12 WIB
Karpet Merah dan Kitab Kuning: Nurul Majalis, Ruang Bersama Anak Muda Merawat Ilmu

Karpet merahnya hampir menutupi seluruh lantai. Luas, lapang. Di depannya, cuma ada sebuah meja kecil, sederhana, tempat Al-Quran dan kitab-kitab kuning biasa terbuka setiap malam. Tak ada mimbar tinggi di sini. Jarak antara pengajar dan yang diajar sengaja dihilangkan. Ruangan ini dibiarkan apa adanya, agar ilmu bisa mengalir tanpa sekat.

Di seberang, sebuah lemari menyimpan koleksi kitab para murid. Di bawahnya, rebana-rebana tertata rapi. Mereka diam, tapi seolah menyimpan denyut tradisi yang masih hidup. Ayat-ayat suci di dinding bukan sekadar hiasan; itu pengingat bahwa tempat ini adalah ruang untuk merawat kesalehan, bukan cuma sekadar belajar.

Seorang pria muda menyambut dengan senyum hangat. Wajahnya tenang, bicaranya bersahaja. Dialah Abdullah Kafabihi, atau yang akrab disapa Kafa, sang muassis majelis. Usianya masih 29 tahun.

"Nama majelisnya itu Nurul Majalis," katanya.

Bagi Kafa, nama itu bukan cuma rangkaian kata indah. Ia membawa sanad, jejaring keilmuan yang merentang jauh hingga ke Hadhramaut, Yaman.

"Oh kalau misalkan dari nama Nurul Majalis itu kita dapat nama dari Syeikh Ali bin Abubakar bin Salim di Hadhramaut, Yaman gitu. Waktu itu kita mengadakan pertama kali majelis di bulan puasa kemudian sekaligus pembukaan majelis itu langsung live dari Tarim gitu," ujarnya menjelaskan.

Majelis ini, baginya, jelas bukan kerja satu orang. Ini adalah usaha keluarga, dalam arti yang sebenarnya. Adiknya juga turun mengajar.

"Karena yang mengajar di Majelis Nurul Majalis itu bukan hanya saya pribadi gitu, tetapi adik juga sama mengajar di sana. Dan kebetulan adik yang paling bontot itu lagi menempuh pendidikan di Tarim Hadhramaut," terang dia.

Kini, majelisnya diisi sekitar 60 jemaah. Rentang usianya luas, dari anak SD sampai yang sudah bekerja. Tapi mayoritas adalah anak muda. Wajah-wajah yang di tempat lain mungkin lebih sering nongkrong, di sini memilih duduk bersila, serius mengkaji.

"Jemaahnya kalau misalkan saya lihat itu kan kurang lebih ada 60-an gitu. 60-an dan itu diisi dari mulai anak SD sampai mereka yang sudah bekerja, rata-rata sih anak-anak kecil dan anak muda sih," kata Kafa.

Tapi tentu saja, Nurul Majalis tidak lahir dalam semalam. Kafa bercerita tentang perjuangan awalnya yang dimulai dari langkah-langkah kecil. Ia mendatangi perkumpulan remaja di kampungnya.

"Saya datang ke rumah-rumah mereka gitu kan, mereka punya yang namanya perkumpulan-perkumpulan yang biasa tiap malam itu pada ngerokok pada ngopi gitu kan. Kebetulan saya alumni pondok pesantren di Kudus gitu di Yanbu’ul Qur’an dan mereka mulai mulai ngaji sama saya itu dari Al-Quran gitu," ceritanya.

Jalan itu tidak mulus. Di awal, cuma lima orang yang rutin datang. Butuh tiga tahun kesabaran untuk perlahan-lahan jumlahnya bertambah.


Halaman:

Komentar