Karpet Merah dan Kitab Kuning: Nurul Majalis, Ruang Bersama Anak Muda Merawat Ilmu

- Minggu, 01 Februari 2026 | 20:12 WIB
Karpet Merah dan Kitab Kuning: Nurul Majalis, Ruang Bersama Anak Muda Merawat Ilmu

"Nah, beriring berjalannya waktu 3 tahun kemudian alhamdulillah Allah berikan kesempatan di majelis itu membuka, awalnya sih datangnya cuma 5 orang gitu yang bener-bener rutin datang di situ," kenangnya.

Sebagai anak Betawi asli, bagi Kafa ada amanah tak tertulis yang harus dijaga. Baginya, Betawi dan ngaji adalah dua hal yang tak terpisahkan. Awalnya, fokusnya cuma pada baca Al-Qur'an. Tapi kemudian ia merasa perlu lebih. Dari situlah kajian kitab kuning seperti Ta'lim Muta'alim dan Fathul Qarib mulai diperkenalkan.

Responnya? Sangat positif. Menurut Kafa, sebenarnya banyak anak muda yang ingin belajar agama. Cuma, mereka sering malu atau sungkan kalau harus berbaur dengan orang yang jauh lebih tua.

"Mereka tuh sebenarnya pengin ngaji tapi karena ada rasa malu gitu untuk berbaur kepada masyarakat yang memang bukan seusianya sepantarannya gitu," ucapnya.

Itulah kenapa pengajian diadakan malam hari, mulai pukul 20.30. Waktu itu sengaja dipilih agar cocok dengan ritme anak muda yang sibuk sekolah atau kerja seharian.

Metodenya pun ala pesantren salaf. Para murid memegang kitabnya sendiri, lalu bersama-sama memberi makna, kata per kata. "Iya ikut maknain kitabnya," ujar Kafa. Kitab-kitab itu dibeli dari iuran bersama. Dan yang penting, semuanya gratis. Tak ada bisyarah, apalagi gaji untuk pengajar.

"Enggak ada untuk bisyarah gak ada. Gratis semuanya," tegasnya.

Di akhir percakapan, Kafa menyentuh soal zaman now. Tentang AI yang bisa menjawab segalanya. Ia mengingatkan, bertanya soal agama ke kecerdasan buatan mungkin tidak salah, tapi itu tidak cukup.

"Jangan sampai kita menanyakan permasalahan di bidang agama itu kepada AI itu salah apa enggak? Gak salah gitu tapi alangkah lebih baiknya ketika kita memiliki guru," ucap dia.

Harapannya sederhana tapi dalam. Ia ingin para murid di Nurul Majalis nantinya bukan cuma jadi pendengar yang baik. Tapi juga bisa menjadi cahaya sendiri, menerangi yang lain.

"Diharapkan dengan adanya Nurul Majalis itu cahaya di antara para majelis-majelis gitu yang ada di Jakarta khususnya ini anak muda, bukan hanya menjadi apa pendengar dan murid tapi juga mereka juga sanggup menjadi seorang guru gitu yang menerangi," tandasnya.

Jadi, begitulah. Di ruang sederhana berkarpet merah itu, cahaya dirawat pelan-pelan. Bukan dengan teriakan atau panggung megah. Tapi dengan duduk bersila, membuka kitab, dan mengaji bersama.


Halaman:

Komentar