Di sudut Pancoran, Jakarta Selatan, Sumiati tersenyum sambil menyiapkan jamu dagangannya. Di usianya yang ke-65, ada secarik kebahagiaan baru yang ia rasakan belakangan ini: pelanggan dari kalangan anak muda ternyata makin banyak. Mereka yang dulu mungkin enggan, sekarang justru jadi pembeli setia.
“Jamu itu perlu, soalnya kita kan orang Indonesia kan, jamu itu penting, ini kan rempah-rempahan asli,” ujar Sumiati, ditemui pada suatu Sabtu di akhir November.
Menurutnya, rahasia kenikmatan jamunya sederhana: semuanya dibuat manual dengan tangan. Tak ada blender atau mesin. “Masaknya bener nggak ecek-ecek. Bukan (pakai) blender, saya marut (rempah-rempah). Makanya kalau ada pesanan (membuatnya) lama, (karena) bukan diblender,” jelasnya.
Dia pun dengan bangga membeberkan khasiat dari setiap racikannya. “Yang beras kencur kan hilangin pegal-pegal, yang kunir itu buat lambung, buat segar badan. Kalau lagi haid kurang lancar, jadi lancar gitu,” imbuhnya.
Artikel Terkait
Paus Leo XIV Soroti Luka Gereja: Pintu Tak Boleh Tertutup bagi Korban
Ahli Geologi Turun Tangan Selidiki Lubang Ajaib di Sawah Pombatan
Banjir Setinggi Pinggang Rendam Tiga Desa di Probolinggo
Asap Mesin Penghancur Batu Tewaskan Empat Penambang di Badakhshan