Di sisi lain, posisi pesantren dinilai sangat strategis. Bisa menjadi pusat pertanian, peternakan, dan pengembangan UKM. Dengan melibatkan santri, alumni, dan warga sekitar, model ekosistem pangan berbasis komunitas yang berkelanjutan benar-benar bisa terwujud.
Santri masa kini, lanjut Mardiono, tak cuma belajar ilmu agama. Mereka juga diharapkan menguasai pertanian, teknologi, ekonomi, dan kewirausahaan. Dari sinilah generasi emas yang akan menopang Indonesia sebagai negara maju di 2045 diharapkan lahir.
Ungkapan itu sekaligus menegaskan optimisme yang dibawanya. Sebelum mengakhiri kunjungan, Mardiono memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ponpes Az Zawiyah atas kontribusinya dalam pendidikan dan pemberdayaan ekonomi.
“Dengan kolaborasi pemerintah, pesantren, dan masyarakat, insyaAllah Indonesia menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” tutupnya penuh harap.
Kedatangan Mardiono kali ini disambut langsung oleh pimpinan Ponpes, Doktor Syekh Ihyan Badruzaman. Tak sendiri, ia datang bersama para kiai, santri, serta ribuan jemaah tarekat yang memadati area pesantren.
Artikel Terkait
Sidang Maraton 12 Jam, 9 Eks Petinggi Pertamina dan Mitra Divonis 9-15 Tahun Penjara
Prabowo dan Presiden UEA Bahas Peningkatan Investasi dalam Pertemuan Bilateral
Pengadilan Vonis 15 Tahun Penjara untuk Anak Riza Chalid atas Korupsi Minyak Rugikan Negara Rp285 Triliun
Pemerintah AS Ajukan Permintaan ke Mahkamah Agung untuk Cabut Status Perlindungan Warga Suriah