Di sisi lain, posisi pesantren dinilai sangat strategis. Bisa menjadi pusat pertanian, peternakan, dan pengembangan UKM. Dengan melibatkan santri, alumni, dan warga sekitar, model ekosistem pangan berbasis komunitas yang berkelanjutan benar-benar bisa terwujud.
Santri masa kini, lanjut Mardiono, tak cuma belajar ilmu agama. Mereka juga diharapkan menguasai pertanian, teknologi, ekonomi, dan kewirausahaan. Dari sinilah generasi emas yang akan menopang Indonesia sebagai negara maju di 2045 diharapkan lahir.
Ungkapan itu sekaligus menegaskan optimisme yang dibawanya. Sebelum mengakhiri kunjungan, Mardiono memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ponpes Az Zawiyah atas kontribusinya dalam pendidikan dan pemberdayaan ekonomi.
“Dengan kolaborasi pemerintah, pesantren, dan masyarakat, insyaAllah Indonesia menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” tutupnya penuh harap.
Kedatangan Mardiono kali ini disambut langsung oleh pimpinan Ponpes, Doktor Syekh Ihyan Badruzaman. Tak sendiri, ia datang bersama para kiai, santri, serta ribuan jemaah tarekat yang memadati area pesantren.
Artikel Terkait
Makanan Bergizi untuk Balita Viral, Cuma Dibungkus Kantong Kresek
Trump Ancam Luncurkan Serangan Darat ke Kartel Narkoba Meksiko
Kepala KPP Jakarta Utara Dicokok KPK, Suap Pajak Rp 4 Miliar Beralih ke Dolar Singapura
KPK Gelar OTT Perdana 2026, Kantor Pajak dan Perusahaan Tambang Jadi Sasaran