Langkah ini diambil setelah perundingan AS-Iran di Islamabad mentok. Gagal total. Pasca jeda konflik awal April, ini jelas sebuah eskalasi baru.
Iran sendiri langsung merespons. Pemerintah Teheran memperingatkan, blokade ini bakal berdampak global. Masyarakat dunia akan merasakannya, terutama lewat lonjakan harga energi. Mereka juga bersiap memberi respons jika eskalasi militer terjadi.
Sementara itu, ada isu lain yang ikut bermain. Tiongkok membantah keras tudingan bahwa mereka memasok senjata ke Iran. Semua laporan soal itu, kata Beijing, "sepenuhnya dibuat-buat".
Gejolak ini langsung terasa di pasar. Harga minyak sempat anjlok di bawah USD100 per barel, didorong harapan akan solusi diplomatik. Brent ada di kisaran USD98,44, sementara WTI sekitar USD96,48.
Tapi jangan terlalu cepat optimis. Ketidakpastian masih menggantung. Ingat, Selat Hormuz itu jalur nadi distribusi minyak dunia. Sedikit gangguan, dampaknya bisa besar.
Ketegangan Meluas ke Arena Global
Pada akhirnya, ini bukan cuma soal AS dan Iran. Tarik-menarik kekuatan global sedang terjadi. Di satu sisi, tekanan AS. Di sisi lain, seruan deeskalasi dari Tiongkok.
Dampaknya berpotensi meluas jauh. Stabilitas kawasan Timur Tengah tentu jadi taruhan utama. Tapi getarannya bisa merambat ke ekonomi global. Semua mata kini tertuju pada selat sempit itu, menunggu langkah berikutnya.
Artikel Terkait
Profesor Sembiring Bantah Tudingan Swasembada Bohong, Soroti Data Surplus Beras
Pemerintah Tegaskan Jalur Haji Furoda 2026 Resmi Ditutup
Keluarga Korban Peluru Nyasar di Gresik Laporkan Keterhambatan Proses ke DPRD Jatim
Atlético Madrid Lolos ke Semifinal Liga Champions Usai Tekuk Barcelona