Sumenep Galakkan Promosi Kesehatan Hadapi Ribuan Kasus TBC

- Rabu, 15 April 2026 | 10:15 WIB
Sumenep Galakkan Promosi Kesehatan Hadapi Ribuan Kasus TBC

Angka kasus tuberkulosis (TBC) di Sumenep ternyata cukup mengkhawatirkan. Ribuan warganya tercatat terjangkit penyakit ini. Menghadapi situasi itu, Pemerintah Kabupaten setempat kini tak tinggal diam. Mereka menggelorakan gerakan promosi kesehatan secara besar-besaran, sebuah upaya konkret untuk memutus mata rantai penularan.

Sasaran utamanya? Ibu-ibu rumah tangga dan para kader posyandu. Menurut Achmad Syamsuri, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes-P2KB Sumenep, program ini sudah dimulai sejak pekan kedua April dan akan terus berjalan sampai akhir tahun nanti.

"Program mulai pekan kedua bulan ini dan akan berlangsung hingga akhir tahun hingga menyasar semua kecamatan di daratan dan kepulauan yang ada di Sumenep," jelas Achmad, seperti dilaporkan Antara, Rabu (15/4/2026).

Wilayahnya luas, mencakup 27 kecamatan yang tersebar dari daratan hingga kepulauan. Materi yang disampaikan pun beragam. Mulai dari pemahaman soal gizi seimbang, cara mencegah dan menangani TBC, sampai kewaspadaan terhadap ancaman difteri. Intinya, mereka ingin membangun kesadaran dari tingkat keluarga.

Nah, di sisi lain, kegiatan ini bukan sekadar sosialisasi biasa. Ada tujuan yang lebih mendasar: mendorong perubahan perilaku. Pola hidup bersih dan sehat menjadi kunci utamanya. Dengan edukasi berkelanjutan, diharapkan kualitas hidup masyarakat bisa meningkat secara signifikan.

"Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan serta mencegah berbagai penyakit melalui gaya hidup sehat," ungkap Syamsuri lagi.

Hingga pertengahan April lalu, gerakan ini sudah menyentuh dua wilayah percontohan: Kecamatan Kalianget dan Talango. Namun, pekerjaan rumahnya masih panjang. Data dari Dinkes-P2KB menunjukkan, ada 1.520 warga Sumenep yang terserang TBC. Kasus-kasus itu tersebar di 17 kecamatan daratan dan delapan kecamatan kepulauan.

Meski terlihat besar, angka itu sebenarnya sudah menunjukkan penurunan. Bayangkan, pada tahun 2025 jumlah penderitanya mencapai 2.294 orang dengan korban meninggal sebanyak 296 jiwa. Artinya, upaya selama ini mulai membuahkan hasil, meski perlahan.

Selain mengandalkan promosi, langkah lain juga diambil. Tim kesehatan turun langsung ke lapangan, melakukan pemantauan dan pemeriksaan dari rumah ke rumah. Pendekatan yang lebih personal ini dianggap penting untuk menjangkau mereka yang mungkin belum tersentuh informasi.

Perjalanan melawan TBC di Sumenep jelas masih jauh dari kata finish. Tapi setidaknya, langkah awal sudah dimulai dengan serius.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar