Keluarga Korban Peluru Nyasar di Gresik Laporkan Keterhambatan Proses ke DPRD Jatim

- Rabu, 15 April 2026 | 08:45 WIB
Keluarga Korban Peluru Nyasar di Gresik Laporkan Keterhambatan Proses ke DPRD Jatim

SURABAYA – Pencarian keadilan membawa keluarga korban peluru nyasar ke Gedung DPRD Jawa Timur, Selasa lalu. Mereka datang dengan harapan, tapi juga dengan beban yang terasa berat. Kasus ini diduga terkait latihan menembak anggota Marinir di Karangpilang, Surabaya.

Di hadapan para anggota dewan, Dewi Murniati, ibu dari DFH yang masih 14 tahun, tak bisa lagi menahan tangis. Suaranya terputus-putus saat menceritakan ulang kejadian yang menimpa anaknya. Dia bukan cuma melaporkan insidennya, tapi juga mengadu soal proses penyelesaiannya yang terasa berjalan di tempat, tanpa kejelasan yang memadai.

Menurut pengakuannya, tekanan sempat mereka rasakan selama kasus ini ditangani. Ada permintaan agar peristiwa ini tak disebarluaskan ke publik. Bahkan, keluarga justru diminta untuk membuat surat permohonan maaf kepada institusi terkait. Situasi yang tentu saja menambah luka.

Hingga saat ini, upaya mereka untuk mendapatkan pertanggungjawaban yang jelas belum membuahkan hasil. Rasanya seperti berjalan dalam lingkaran.

“Yang saya utamakan adalah upaya penyembuhan anak saya sampai tuntas,” ujar Dewi.

Harapannya sederhana: DPRD Jatim bisa turun tangan mengawal kasus ini, memastikan hak-hak anaknya dipenuhi.

Menanggapi hal ini, Ketua Komisi C DPRD Jatim, Adam Rusydi, menyatakan akan segera menjadwalkan pemanggilan pihak Marinir. Tujuannya untuk mediasi dengan keluarga korban. Langkah ini diharapkan bisa membuka jalan buntu.

Sebelumnya, Mayor Ahmad Fauzi selaku Komandan Hukum Resimen Bantuan Tempur 2 Marinir sudah menyampaikan pernyataan resmi. Dia mengaku prihatin atas musibah yang menimpa dua siswa SMP di Gresik.

“Pertama-tama kami menyampaikan turut prihatin... Kami memahami peristiwa ini menimbulkan kecemasan. Kami menyampaikan rasa simpati dan empati yang tulus terhadap para korban,” kata Ahmad dalam keterangannya pada awal April.

Peristiwa ini sendiri terjadi jauh sebelumnya, tepatnya pada 17 Desember 2025 silam. Dua siswa kelas III SMPN 33 Gresik, DFH (14) dan RQ (15), menjadi korban saat sedang berada di musala sekolah sekitar pukul sepuluh pagi. Peluru nyasar itu datang tiba-tiba, mengubah hari biasa menjadi mimpi buruk.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar