Kisah Dua Pelaku UMKM: Modal KUR BRI Jadi Penyelamat Usaha di Tengah Pandemi

- Minggu, 31 Mei 2026 | 10:00 WIB
Kisah Dua Pelaku UMKM: Modal KUR BRI Jadi Penyelamat Usaha di Tengah Pandemi

Malam takbiran Idul Adha menjadi momen sibuk bagi Eka Sinta Febriana. Di lapak kuliner rumahan miliknya, ia sibuk membakar aneka menu untuk disajikan kepada para pelanggan yang datang silih berganti. Keramahannya dalam berkomunikasi membuat Eka akrab dengan anak-anak yang singgah di depan rumahnya. Interaksi yang santai dan hangat itu menjadi daya tarik tersendiri yang membuat usaha kulinernya selalu ramai dikunjungi warga sekitar.

Di sela-sela kesibukan melayani pembeli, perempuan berusia 32 tahun itu menceritakan panjang lebar perjalanan usahanya yang dirintis sejak beberapa tahun lalu. Awalnya, Eka memulai usaha kue kering pada tahun 2022. Bisnis tersebut sempat berjalan cukup baik dengan pesanan yang masuk melalui promosi WhatsApp. Untuk mengembangkan usahanya, ia mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp15 juta.

Namun, perjalanan usaha kue kering itu tidak berjalan mulus. Berbagai kendala muncul hingga akhirnya usaha tersebut berhenti total. Eka pun harus memutar otak agar tetap bisa menambah penghasilan keluarga. “Akhirnya minjem lagi KUR. Kita pinjam lagi buat modal, tapi kita ganti usaha lagi,” katanya saat ditemui di rumahnya di kawasan Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada 26 Mei 2026.

Ia kemudian mengajukan pinjaman KUR BRI yang kedua sebesar Rp23 juta. Dari modal tersebut, Eka membuka usaha kuliner dengan beragam menu bakaran, makanan ringan, hingga minuman. Usaha aneka bakaran itu buka setiap hari mulai pukul 17.00 hingga 21.00 WIB. Selain melayani pembeli yang datang langsung, dagangannya juga bisa dipesan secara online melalui gerai bernama Aneka Bakaran Mom’s Alya.

Usaha kuliner rumahan Eka kini mampu menghasilkan keuntungan kotor sekitar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per hari. Pendapatan itu digunakan kembali untuk modal usaha dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Alhamdulillah tercukupi, namanya jualan kan, kadang sepi kadang ramai, alhamdulillah cukup. Udah gitu kan orderan dari Gojek juga alhamdulillah. Jadi bisa nutup deh,” ujar Eka.

Mayoritas pelanggan usaha aneka bakaran milik Eka adalah warga setempat. Pesanan online pun bisa mencapai jumlah yang cukup banyak setiap harinya. “Kalau dari online lebih dari 20 ojek,” katanya. Dalam mengelola usaha, Eka dibantu oleh suaminya, terutama saat pesanan sedang ramai di akhir pekan. “Jumat sampai malam Minggu tuh paling ramai,” imbuhnya.

Lapak kuliner milik Eka juga menarik banyak pengunjung karena menyediakan fasilitas karaoke. Warga biasanya datang ramai-ramai untuk sekadar nongkrong. “Soalnya kan banyak anak-anak kos di sini gitu. Via WhatsApp entar ambil gitu, pada nongkrong, ada karaoke juga soalnya,” jelas Eka. Ke depan, ia berencana terus mengembangkan usaha tersebut dan berharap bisa membuka cabang sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. “Iya pengennya tambah lagi, pengen kita pengen buka cabang,” ucapnya.

Eka merasa sangat terbantu dengan adanya modal KUR BRI. Pendapatan keluarganya bertambah setelah ia membuka usaha kuliner rumahan. “Alhamdulillah sangat membantu terutama buat modal. Karena modal perlu banget, penting gitu kan untuk usaha kita. Apalagi buat tambah-tambah sehari-hari, jajan anak-anak,” katanya.

Kisah serupa juga dialami oleh Warda Royani. Ia mengajukan pinjaman KUR BRI sebesar Rp25 juta pada tahun 2016 untuk menambah modal usaha toko sembako yang dibukanya di rumah. Saat itu, Warda membutuhkan modal dari total kebutuhan usaha sekitar Rp70 juta. Dana pinjaman tersebut digunakan untuk menambah stok kebutuhan dagangan, seperti tabung gas dan galon air minum. “Dampaknya kalau selama uang itu kita pinjam untuk usaha, alhamdulillah bisa diputerin,” kata Warda saat ditemui terpisah.

Usaha yang dikelola Warda sempat berjalan cukup lama. Namun, pandemi COVID-19 membuat usaha toko sembako tersebut menurun hingga akhirnya ditutup. Beberapa tahun kemudian, Warda kembali mengajukan pinjaman ke BRI, namun kali ini masuk ke program Kupedes. Pinjaman sebesar Rp30 juta digunakan untuk merenovasi kontrakan dan membiayai sekolah anak.

Selain memiliki usaha kontrakan, Warda saat ini menjual berbagai macam makanan di kantin sekolah. Modal usahanya berasal dari uang pribadi. Pemasukan bersih dari usaha jualan makanan di kantin sekolah bisa mencapai Rp150 ribu per hari. “Sebenarnya kalau full hari-hari biasa gitu, dari kelas 3 sampai kelas 1 masuk, ya alhamdulillah sehari itu kita bisa kantongin uang Rp450 ribu, Rp400 ribu. Ya dihitung-hitung kalau pemasukan bersih kita, ya dapatlah 150 sehari bersih,” kata Warda.

Warda menyampaikan bahwa pemasukan utama keluarga berasal dari usaha kontrakan. Sementara itu, hasil jual makanan di kantin sekolah digunakan untuk kebutuhan harian dan tambahan uang jajan keluarga. Ia mengaku memilih BRI karena proses pengajuan pinjaman yang terbilang cepat dan mudah. Selain itu, menurut Warda, bunga cicilan KUR juga dinilai cukup ringan bagi para pelaku usaha. “Terus kayak misalkan yang Kupedes ini, itu juga istilah kata tuh gini, bagi saya enggak terlalu sulit lah. Nggak terlalu sulit prosedurnya. Mudah-mudah aja. Mungkin juga, mungkin dilihat dari BI checking saya juga memang enggak pernah ada ketelatan,” ujarnya.

Ia mengatakan setiap pinjaman dari bank selalu diputar agar menghasilkan uang kembali. Warda bersyukur usahanya memberikan dampak bagi kebutuhan sehari-hari. “Saya nggak mikir untungnya berapa, yang penting tiap hari itu kalau kita puterin pasti ada untungnya dong. Memang nggak banyak, tapi untuk kita hari-hari alhamdulillah ada,” ujarnya.

Pimpinan Cabang BRI Pasar Minggu, Yanuar Akademikus Arbifirdaus, menyambut positif perkembangan UMKM di wilayahnya. Ia menegaskan komitmen BRI untuk selalu memajukan UMKM di Indonesia. “Tentunya kami sangat bersyukur apabila dari pelaku-pelaku UMKM yang menikmati pembiayaan atau modal kerja, untuk usahanya dari Bank BRI. Saya turut bersyukur dan bangga,” ujar Arbi saat ditemui di kantornya.

Ia juga menyampaikan bahwa BRI akan terus mempermudah transaksi keuangan bagi para pelaku UMKM melalui layanan BRImo, QRIS BRI, dan produk BRI lainnya. Saat ini, menurut Arbi, ada dua kantor cabang pembantu, tiga kantor kas, dan delapan unit yang berada di bawah BRI kantor cabang Pasar Minggu. Ia berharap BRI bisa terus membantu masyarakat dengan penyaluran KUR. Selain itu, warga yang mendapatkan pinjaman modal tersebut diharapkan terus bisa meningkatkan usahanya ke level yang lebih tinggi. “Tentunya ini jadi harapan kita semua. Kita bisa menyalurkan khususnya KUR, ke pelaku usaha UMKM ini untuk apa? Men-generate kemampuan usaha pelaku UMKM itu sendiri. Dengan bertambahnya modal, atau dia dengan kredit investasi buka tempat baru, sehingga bisa memperluas usaha dan memajukan usaha dari pelaku-pelaku UMKM,” ujar Arbi.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar