Kemenbud Gelar Seminar Mitigasi Bencana untuk Lindungi Cagar Budaya

- Rabu, 15 April 2026 | 10:00 WIB
Kemenbud Gelar Seminar Mitigasi Bencana untuk Lindungi Cagar Budaya

Letak Indonesia di kawasan Cincin Api bukan cuma soal pemandangan gunung berapi yang megah. Posisi itu juga menempatkan negeri ini di peringkat kedua dunia dengan risiko bencana tertinggi. Kenyataan pahitnya baru saja terlihat di tiga provinsi Sumatera akhir November lalu. Bencana hidrometeorologi merusak tak kurang dari 43 cagar budaya.

Nah, melihat situasi itu, edukasi jadi kunci. Pemahaman masyarakat dan semua pihak yang berkepentingan terhadap budaya harus ditingkatkan soal kebencanaan. Itulah yang mendasari Kementerian Kebudayaan RI (Kemenbud) menggelar seminar dan pameran bertajuk 'Cagar Budaya Tangguh Bencana yang Berkelanjutan' di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon langsung menegaskan hal ini. Mitigasi bencana, katanya, adalah fokus utama sekarang. "Kita ini bagian dari ring of fire," ujarnya.

Menurut Fadli, selama ratusan bahkan ribuan tahun, berbagai bencana telah datang silih berganti. Itu adalah konsekuensi sekaligus potensi dari geografi Indonesia.

Ancaman terhadap cagar budaya pun sangat nyata. Sepanjang 2025 saja, banyak yang terdampak. Kerusakannya beragam, mulai dari yang ringan sampai berat, baik pada bangunan, situs, atau elemen lainnya.

"Bencana bukan hanya persoalan alam, tetapi juga non-alam, termasuk faktor manusia. Oleh karena itu, penting untuk membangun kesadaran dan kecintaan terhadap budaya dan alam agar tercipta keselarasan dan dapat mengurangi dampak bencana," ungkap Fadli dalam keterangan tertulisnya, Rabu (15/4/2026).

Di sisi lain, ia menyoroti jumlah Cagar Budaya Nasional (CBN) yang sudah tercatat. Fadli mendorong agar penetapannya dipercepat secara signifikan. Tujuannya jelas: agar upaya perlindungan bisa segera dilakukan.

"Kita harus mempercepat. Banyak aset budaya yang belum ditetapkan, padahal punya nilai penting banget istana, situs sejarah, dan lain-lain. Selain warisan, ini punya potensi besar sebagai objek wisata dan penggerak ekonomi budaya," tegasnya.

Harapannya ke depan, sistem perlindungan bisa makin baik. Dengan begitu, saat bencana datang, masyarakat sudah tahu apa yang harus dilakukan, termasuk untuk mitigasi kerusakan pada cagar budaya.

"Melalui seminar dan diskusi seperti ini, diharapkan muncul gagasan dan solusi yang konkret, serta kolaborasi nyata dalam upaya pelindungan dan pemajuan kebudayaan," jelasnya menutup sambutan.

Sementara itu, dari internal kementerian, Direktur Bina SDM, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan, Syukur Asih Suprojo, juga angkat bicara. Ia mewakili Dirjennya.

Bagi Syukur, penguatan kapasitas kelembagaan adalah kunci utama. Tanpa itu, implementasi mitigasi bencana di sektor kebudayaan akan sulit.

"Upaya pelestarian tidak cukup hanya pada aspek pemeliharaan, tetapi harus diiringi dengan kesiapsiagaan lembaga budaya dalam menghadapi risiko bencana. Oleh karena itu, pendekatan berbasis Cagar Budaya Tangguh Bencana menjadi penting untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan warisan budaya," ujar Syukur.

Seminar dan pameran ini, lanjutnya, adalah bagian dari strategi memperkuat ekosistem kebudayaan. Kegiatannya melibatkan banyak pihak: komunitas, lembaga, hingga ahli dari berbagai bidang.

Beberapa narasumber yang hadir antara lain Fitra Arda, Pamong Budaya Ahli Utama Kemenbud, yang membawakan materi inti 'Cagar Budaya Tangguh Bencana'.

Lalu ada Soehatman Ramli, profesional di bidang keamanan, yang memaparkan 'Manajemen Bencana dan Kelangsungan Cagar Budaya Berbasis ISO 22301'. Tak ketinggalan, arsitek sekaligus arkeolog Albertus Kriswandhono menyoroti ancaman yang sering luput dari pemberitaan. Judul paparannya provokatif: 'Bencana yang Tidak Ada di Berita: Rob, Amblesan, dan Kehilangan Memori sebagai Ancaman Nyata bagi Warisan Budaya'.

Acara ini sendiri adalah hasil kolaborasi Kemenbud dengan Yayasan Perisai Budaya Nusantara (YPBN). Tampak hadir Ketua YPBN Hasanuddin beserta anggotanya, perwakilan pemadam kebakaran, Tim Ahli Cagar Budaya, mahasiswa, dan masyarakat pemerhati museum.

Intinya, seminar ini bukan cuma untuk bagi-bagi ilmu. Tujuannya lebih jauh: mendorong terbentuknya jejaring kerja yang solid antar semua pemangku kepentingan. Kemenbud berharap ini jadi titik awal kolaborasi untuk membangun sistem perlindungan cagar budaya yang lebih tangguh dan yang paling penting berkelanjutan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar