Di tengah hiruk-pikuk wacana politik, suara Ketua DPR RI Puan Maharani mengingatkan kita pada sebuah realitas yang sering terabaikan. Ia menekankan, negara wajib memberi penghargaan yang layak benar-benar layak bagi para guru honorer. Terutama mereka yang sudah puluhan tahun mengabdi, namun hidupnya masih serba pas-pasan.
Bagi Puan, cara sebuah negara memperlakukan para pekerjanya yang berjasa dalam "kesunyian" adalah cermin nyata kualitas bangsa itu sendiri.
Demikian penegasannya, Senin lalu. Ia lantas mengingatkan, pembangunan pendidikan bukan cuma soal kebijakan makro yang gemuruh. Justru, fondasinya ditopang oleh peran guru-guru yang dengan setia menjaga denyut nadi sekolah setiap harinya.
Dari Viral ke Realita: Kisah yang Hanya Puncak Gunung Es
Puan menyentil satu kasus yang sempat menyita perhatian: Cacang Hidayat. Guru honorer ini mengabdi tak kurang dari 25 tahun di SMPN Cibadak, Kabupaten Lebak. Bayangkan, dengan penghasilan sekitar lima ratus ribu rupiah sebulan. Setelah kisahnya ramai di media, akhirnya Cacang diangkat sebagai PPPK paruh waktu.
Namun begitu, menurut Puan, cerita Cacang ini cuma satu dari sekian banyak. Kasusnya justru memperlihatkan sebuah jurang. Ya, jurang lebar antara kebutuhan negara akan tenaga pendidik dan kelambanan sistem dalam memberi kepastian status.
Artikel Terkait
Polisi Kukar Gagalkan Peredaran 1,5 Kg Sabu, Selamatkan 15.000 Orang dari Jerat Narkoba
Pertamina Tegaskan Pendaftaran Pangkalan LPG 3 Kg Gratis, Sebut Informasi Biaya adalah Hoaks
Pemerintah Buka Rekrutmen 30 Ribu Manajer Koperasi Desa Berstatus Pegawai BUMN
Pemprov Sulsel Godok Mutasi 314 Guru untuk Atasi Ketimpangan Distribusi