Lewat unggahan di Truth Social, Donald Trump membuat klaim menarik. Mantan Presiden AS itu menyebut Xi Jinping, pemimpin China, telah sepakat untuk menghentikan pengiriman senjata ke Iran. Trump mengaku sudah dapat jaminan langsung soal ini.
"Mereka sudah setuju untuk tidak kirim senjata ke Iran. Presiden Xi akan kasih saya pelukan hangat begitu saya sampai di sana beberapa minggu lagi,"
tulisnya, merujuk pada pertemuan puncak yang diagendakan pertengahan Mei di Beijing, menurut laporan AFP, Rabu (15/4/2026).
Dalam percakapan di Fox Business, Trump lebih gamblag lagi. Xi, katanya, "pada dasarnya" sudah berjanji tidak akan mengirimkan persenjataan.
Dia mengaku sempat mendengar kabar bahwa China memang memasok senjata ke Iran. "Anda lihat itu di mana-mana," ujarnya. Lalu, Trump memutuskan untuk menulis surat permintaan langsung kepada Xi.
"Dan dia balas surat saya. Intinya, dia bilang tidak melakukan hal itu,"
imbuh Trump.
Latar belakangnya tentu rumit. Ketegangan AS dan China makin memanas belakangan ini, dipicu konflik di Timur Tengah. Pertemuan Trump-Xi sendiri sempat tertunda dari rencana awal Maret lalu, gara-gara keputusan Trump untuk melancarkan perang.
Di sisi lain, China sendiri punya keluhan. Mereka menuding blokade pelabuhan Iran di Selat Hormuz oleh AS sebagai tindakan "berbahaya dan tidak bertanggung jawab". Xi bahkan bersumpah China akan mainkan "peran konstruktif" untuk perdamaian di kawasan itu.
Trump punya klaim lain. Di Truth Social, dia menegaskan bahwa China justru "sangat senang" karena dia berhasil membuka Selat Hormuz secara permanen. "Saya lakukan itu untuk mereka juga - dan untuk dunia," tulisnya.
Pembicaraan dalam wawancara itu sempat menyentuh isu lain: serangan siber. Saat ditanya tentang kabar China yang diduga menyerang FBI secara besar-besaran, Trump tidak langsung mengiyakan. Tanggapannya lebih seperti pengakuan saling serang.
"Kami lakukan ke mereka. Mereka lakukan ke kami,"
katanya dengan nada biasa.
Lalu dia menambahkan, "China ya tetap China. Tidak pernah mudah, tapi kami cukup berhasil berurusan dengan mereka." Trump menutup dengan klaim khasnya: bahwa dirinya adalah orang paling keras dalam berurusan dengan China.
Artikel Terkait
Jaksa Tuntut Hukuman Mati untuk Pengedar 50 Kg Sabu di Padang
2,15 Juta Peserta BPJS PBI yang Dinonaktifkan Telah Direaktivasi
Ketua MPR: Survei Kemenag Sebut Indonesia Salah Satu Negara Paling Rukun
Wamenristek: Indonesia Harus Fokus pada Spesialisasi AI untuk Kejar Ketertinggalan