Malaria dan Sikap Dingin Belanda Renggut Nyawa Ibu Mertua Soekarno di Pengasingan Ende

- Selasa, 07 April 2026 | 04:00 WIB
Malaria dan Sikap Dingin Belanda Renggut Nyawa Ibu Mertua Soekarno di Pengasingan Ende

JAKARTA – Malaria. Penyakit itulah yang merenggut nyawa Ibu Amsi, ibu mertua Soekarno, di tanah pengasingan. Selama lima hari, wanita itu terbaring lemah di rumah pengasingan Bung Karno di Ambugaga, Ende, Flores. Hanya sekali ia sempat sadar, sebelum akhirnya tak bangun lagi. Ia menghembuskan napas terakhir justru di pangkuan sang menantu, Bung Karno, yang begitu disayanginya.

Kisah pilu ini tercatat dalam buku "Total Bung Karno" karya Roso Daras. Menariknya, saat yang sama, cucu Ibu Amsi, Ratna Djuami anak angkat Bung Karno dan Inggit juga terjangkit malaria. Si cucu, yang akrab dipanggil Omi, berhasil pulih. Namun, nasib berkata lain untuk sang nenek. Tuhan rupanya berkehendak lain: Ibu Amsi harus wafat di tanah interniran, jauh dari kampung halamannya di Bandung.

Yang membuat hati miris, pemerintah kolonial Belanda di karesidenan Ende sama sekali tak mau membantu. Mereka bersikap masa bodoh. Bahkan setelah Ibu Amsi meninggal, jenazahnya dilarang dikubur di dalam kota. Mau tak mau, Bung Karno bersama beberapa kawannya terpaksa menggotong jenazah itu. Mereka menyusuri bukit, masuk ke tengah hutan, menuju lokasi yang baru diizinkan Belanda untuk pemakaman.

Bung Karno sendiri yang turun ke liang lahat. Dialah yang menerima jasad ibu mertuanya, membaringkannya dengan hati-hati, menghadapkannya ke kiblat, lalu menutup dan menguruk kuburan itu. Tapi perhatiannya tak berhenti di situ.

Dengan tangannya sendiri, ia memahat tulisan "Iboe Amsi" di dinding nisan sebelah utara. Lalu, bersama teman-temannya, ia naik ke pegunungan. Mereka mencari bongkahan batu karst yang keras, memahatnya hingga seukuran batako. Sebanyak 21 batu itu kemudian diletakkan mengelilingi nisan, sebagai pelindung dan penghormatan terakhir.

Sebelum semua tragedi ini, Ibu Amsi sebenarnya adalah pengagum berat Bung Karno. Suatu ketika, saat Inggit berunding dengan keluarganya di Bandung tentang apakah akan ikut suaminya dibuang atau tidak, Ibu Amsi tiba-tiba muncul. Dengan tegas ia menyatakan, “Saya juga ikut.”

Inggit, dalam buku “Kuantar ke Gerbang”, mengisahkan bahwa saat itu memang terjadi silang pendapat di antara kerabat. Sebagian setuju ia mendampingi Bung Karno, sebagian lain menolak.

Tapi jauh di lubuk hati, Inggit sudah punya tekad bulat. Ia akan setia menemani suaminya, ke mana pun.

Bung Karno sendiri sempat bertanya ragu, “Kumaha Enggit, enung, bade ngiring? (Bagaimana Inggit, sayang, akan ikut?). Akan ikut ke pembuangan atau tinggal di Bandung saja? Yang dibuang itu tidak tahu kapan ia akan kembali. Entah untuk lama, entah untuk sebentar. Terserah kepadamu, Enggit….”
Dengan cepat Inggit menjawab, “Euh kasep (Ah, sayang), jangankan ke pembuangan, sekalipun ke dasar lautan aku pasti ikut. Kus jangan was-was mengenai itu, jangan ragu akan kesetiaanku.”

Keesokan harinya di Stasiun Bandung, betapa bahagianya Bung Karno melihat Inggit datang. Tak sendirian. Inggit disertai ibu mertuanya, Ibu Amsi, beserta Ratna Djuami, dan dua orang pembantu, Muhasan (Encom) dan Karmini. Mereka semua memilih ikut dalam ketidakpastian.

Inilah makna besar Ibu Amsi. Di usianya yang sudah senja, dan kerap sakit-sakitan, ia tetap punya semangat baja untuk mengikuti anak, cucu, dan menantunya ke tempat pembuangan yang bahkan tak bisa ia bayangkan.

Di Ende, dalam banyak cerita, Ibu Amsi sering menjadi penyemangat di balik layar. Jika ia melihat Bung Karno murung duduk di belakang rumah, ia segera mencari Inggit. Apa pun yang sedang dikerjakan putrinya memasak atau menjahit harus dihentikan. Inggit disuruhnya menemani Bung Karno, mengajak bicara, membangkitkan lagi semangatnya yang mungkin pudar.

Bahkan, Ibu Amsi-lah yang kerap meminta Inggit menyiapkan masakan kesukaan Bung Karno kala di Bandung. Sari kacang ijo, sayur lodeh, dan lain-lain. Upaya sederhana untuk mengobati rindu dan menjaga semangat.

Ia adalah ibu mertua yang sangat sadar akan perannya. Ia ikut menjaga nyala api dalam diri Bung Karno, api yang kelak membakar semangat kemerdekaan bangsa. Dan di akhir riwayatnya, Bumi Ende-lah yang dipilih Tuhan untuk memeluk jasad wanita mulia ini.

Kini, masyarakat Ende seolah telah menyatu dengan Ibu Amsi. Tanpa diminta, warga setempat terutama keturunan sahabat-sahabat Bung Karno dulu masih rutin menziarahi makamnya.

Meski sempat terancam hilang. Tragedi gempa bumi tahun 1992 menyebabkan makamnya tertimbun longsoran tanah. Nisannya tak lagi kelihatan.

Namun begitu, seorang warga bernama Abdullah, yang rumahnya tak jauh dari situ, spontan membersihkan lokasi itu. Ia menyingkirkan tanah longsor, diikuti warga lain. Berkat aksi spontan itu, makam Ibu Amsi tetap terjaga. Tetap dikenang. Sampai sekarang.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar