JAKARTA – Malaria. Penyakit itulah yang merenggut nyawa Ibu Amsi, ibu mertua Soekarno, di tanah pengasingan. Selama lima hari, wanita itu terbaring lemah di rumah pengasingan Bung Karno di Ambugaga, Ende, Flores. Hanya sekali ia sempat sadar, sebelum akhirnya tak bangun lagi. Ia menghembuskan napas terakhir justru di pangkuan sang menantu, Bung Karno, yang begitu disayanginya.
Kisah pilu ini tercatat dalam buku "Total Bung Karno" karya Roso Daras. Menariknya, saat yang sama, cucu Ibu Amsi, Ratna Djuami anak angkat Bung Karno dan Inggit juga terjangkit malaria. Si cucu, yang akrab dipanggil Omi, berhasil pulih. Namun, nasib berkata lain untuk sang nenek. Tuhan rupanya berkehendak lain: Ibu Amsi harus wafat di tanah interniran, jauh dari kampung halamannya di Bandung.
Yang membuat hati miris, pemerintah kolonial Belanda di karesidenan Ende sama sekali tak mau membantu. Mereka bersikap masa bodoh. Bahkan setelah Ibu Amsi meninggal, jenazahnya dilarang dikubur di dalam kota. Mau tak mau, Bung Karno bersama beberapa kawannya terpaksa menggotong jenazah itu. Mereka menyusuri bukit, masuk ke tengah hutan, menuju lokasi yang baru diizinkan Belanda untuk pemakaman.
Bung Karno sendiri yang turun ke liang lahat. Dialah yang menerima jasad ibu mertuanya, membaringkannya dengan hati-hati, menghadapkannya ke kiblat, lalu menutup dan menguruk kuburan itu. Tapi perhatiannya tak berhenti di situ.
Dengan tangannya sendiri, ia memahat tulisan "Iboe Amsi" di dinding nisan sebelah utara. Lalu, bersama teman-temannya, ia naik ke pegunungan. Mereka mencari bongkahan batu karst yang keras, memahatnya hingga seukuran batako. Sebanyak 21 batu itu kemudian diletakkan mengelilingi nisan, sebagai pelindung dan penghormatan terakhir.
Sebelum semua tragedi ini, Ibu Amsi sebenarnya adalah pengagum berat Bung Karno. Suatu ketika, saat Inggit berunding dengan keluarganya di Bandung tentang apakah akan ikut suaminya dibuang atau tidak, Ibu Amsi tiba-tiba muncul. Dengan tegas ia menyatakan, “Saya juga ikut.”
Inggit, dalam buku “Kuantar ke Gerbang”, mengisahkan bahwa saat itu memang terjadi silang pendapat di antara kerabat. Sebagian setuju ia mendampingi Bung Karno, sebagian lain menolak.
Tapi jauh di lubuk hati, Inggit sudah punya tekad bulat. Ia akan setia menemani suaminya, ke mana pun.
Artikel Terkait
Standing Ovation dari Tifosi Inter untuk Bastoni di Tengah Sorotan Negatif
Pemulihan Pascabencana Sumatera Diperkirakan Rampung dalam Tiga Tahun
Kiper Bosnia Curi Catatan Penalti Donnarumma, Picu Kontroversi di Laga Internasional
Mahasiswa Blokade Flyover Makassar, Tuntut Penuntasan Kasus Penyiraman Air Keras