Malaria dan Sikap Dingin Belanda Renggut Nyawa Ibu Mertua Soekarno di Pengasingan Ende

- Selasa, 07 April 2026 | 04:00 WIB
Malaria dan Sikap Dingin Belanda Renggut Nyawa Ibu Mertua Soekarno di Pengasingan Ende

Keesokan harinya di Stasiun Bandung, betapa bahagianya Bung Karno melihat Inggit datang. Tak sendirian. Inggit disertai ibu mertuanya, Ibu Amsi, beserta Ratna Djuami, dan dua orang pembantu, Muhasan (Encom) dan Karmini. Mereka semua memilih ikut dalam ketidakpastian.

Inilah makna besar Ibu Amsi. Di usianya yang sudah senja, dan kerap sakit-sakitan, ia tetap punya semangat baja untuk mengikuti anak, cucu, dan menantunya ke tempat pembuangan yang bahkan tak bisa ia bayangkan.

Di Ende, dalam banyak cerita, Ibu Amsi sering menjadi penyemangat di balik layar. Jika ia melihat Bung Karno murung duduk di belakang rumah, ia segera mencari Inggit. Apa pun yang sedang dikerjakan putrinya memasak atau menjahit harus dihentikan. Inggit disuruhnya menemani Bung Karno, mengajak bicara, membangkitkan lagi semangatnya yang mungkin pudar.

Bahkan, Ibu Amsi-lah yang kerap meminta Inggit menyiapkan masakan kesukaan Bung Karno kala di Bandung. Sari kacang ijo, sayur lodeh, dan lain-lain. Upaya sederhana untuk mengobati rindu dan menjaga semangat.

Ia adalah ibu mertua yang sangat sadar akan perannya. Ia ikut menjaga nyala api dalam diri Bung Karno, api yang kelak membakar semangat kemerdekaan bangsa. Dan di akhir riwayatnya, Bumi Ende-lah yang dipilih Tuhan untuk memeluk jasad wanita mulia ini.

Kini, masyarakat Ende seolah telah menyatu dengan Ibu Amsi. Tanpa diminta, warga setempat terutama keturunan sahabat-sahabat Bung Karno dulu masih rutin menziarahi makamnya.

Meski sempat terancam hilang. Tragedi gempa bumi tahun 1992 menyebabkan makamnya tertimbun longsoran tanah. Nisannya tak lagi kelihatan.

Namun begitu, seorang warga bernama Abdullah, yang rumahnya tak jauh dari situ, spontan membersihkan lokasi itu. Ia menyingkirkan tanah longsor, diikuti warga lain. Berkat aksi spontan itu, makam Ibu Amsi tetap terjaga. Tetap dikenang. Sampai sekarang.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar