Kecaman keras dilayangkan Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani. Dalam sebuah panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian, ia menyoroti penargetan infrastruktur sipil di tengah konflik yang kian memanas di Timur Tengah. Menurutnya, tindakan semacam itu tak bisa dibenarkan.
Lewat unggahan di media sosial, Kementerian Luar Negeri Qatar mengungkapkan percakapan kedua pemimpin itu fokus pada eskalasi militer yang sedang terjadi. Dampaknya terhadap stabilitas kawasan pun jadi bahan pembicaraan. Al-Thani juga menyampaikan keberatan atas serangan-serangan Iran yang mengenai Qatar dan negara tetangga lain yang berusaha menjaga netralitas.
"Yang Mulia menegaskan, menargetkan infrastruktur sipil dan sumber daya rakyat adalah perilaku yang tak dapat diterima," bunyi pernyataan resmi itu. "Ini patut dikutuk oleh siapa pun dan dalam keadaan apa pun."
Klaim Israel Lumpuhkan Industri Petrokimia Iran
Di sisi lain, dari Tel Aviv, nada yang terdengar sama sekali berbeda. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan lantang mengklaim keberhasilan pasukannya. Mereka dikatakan telah menghancurkan pabrik petrokimia terbesar milik Iran. Tujuannya? Memutus aliran dana untuk kepentingan militer.
"Kami secara sistematis melumpuhkan mesin uang IRGC," tulis Netanyahu di akun X-nya, merujuk pada Korps Garda Revolusi Islam.
Pernyataan itu sejalan dengan klaim Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Mereka menyatakan telah menyerang dua kompleks petrokimia terpenting Iran. Serangan itu, kata mereka, melumpuhkan lebih dari 85% kapasitas ekspor petrokimia negara tersebut. Pukulan yang sangat telak, jika klaim ini benar.
Fokus pada Asaluyeh
IDF secara khusus menyoroti serangan di kawasan Asaluyeh. Lokasi ini, menurut mereka, bukan cuma fasilitas industri biasa. Tempat itu diduga kuat berfungsi sebagai pusat produksi komponen penting untuk industri rudal Iran. Jadi, serangan ini punya dimensi strategis yang lebih dalam.
Di balik ketegangan militer, jalur diplomasi ternyata masih berdenyut. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengonfirmasi telah berbicara langsung dengan Netanyahu pada hari Minggu lalu. Mereka membahas perkembangan terbaru di lapangan, meski detail percakapan itu tidak diungkap ke publik.
Namun begitu, situasi di kawasan tetap mencemaskan. Eskalasi tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Yang jadi taruhan bukan cuma stabilitas regional, tapi juga keamanan infrastruktur energi global dan tentu saja, keselamatan jutaan warga sipil yang terjebak di tengahnya.
Artikel Terkait
Guterres Kecewa Konferensi Non-Proliferasi Nuklir PBB Gagal Capai Kesepakatan
Tim Gegana Brimob Sterilisasi JIS Jelang Laga Persija vs Semen Padang
Ini Arti Status Bansos di Aplikasi Cek Bansos, dari Penetapan hingga Gagal Top-Up
LAMR Apresiasi Polda Riau Tetapkan PT Musim Mas Tersangka Kasus Lingkungan, Kerugian Negara Capai Rp187 Miliar