Prosesi yang dipimpin pemangku adat ini berjalan lancar. Unsur pemerintah dan masyarakat duduk berdampingan, menyatu dalam kekhidmatan yang sama. Doa-doa pun mengalir, mengiringi setiap gerak ritual, sebagai bentuk penghormatan pada warisan yang tak ternilai.
Seorang tokoh adat Bone, Andi Yushan Tenritappu, menyoroti pentingnya pelestarian ini.
"Melalui tradisi ini, nilai-nilai budaya Bugis terus kita pelihara. Kita wariskan ke generasi muda," ujarnya.
Ia menegaskan, "Mattompang Arajang tidak hanya jadi agenda seremonial tahunan belaka. Lebih dari itu, ia adalah penguat identitas. Pemicu kebanggaan masyarakat Bone."
Dan begitulah, sebuah pagi di Bone bukan hanya tentang mengingat usia kabupaten yang bertambah. Tapi tentang merawat jiwa sebuah peradaban.
Artikel Terkait
Timnas Futsal Indonesia Hajar Brunei 7-0 di Pembuka ASEAN Championship
Analis: Kekuatan Militer Iran yang Tak Terduga Buat Perang dengan AS-Israel Berkepanjangan
Kuasa Hukum Jusuf Kalla Laporkan Lima Pihak ke Bareskrim Terkait Tudingan Pendanaan Kasus Ijazah Jokowi
HUT Bone ke-696 Jadi Momentum Genjot Pembangunan Infrastruktur