Dengan tenang, ia menempatkan bola dan melepaskan tendangan. Gawang PSIM bobol. Stadion pun meledak.
Gol itu, ternyata, menjadi satu-satunya dalam pertandingan. Setelah unggul, strategi Dewa jelas: bertahan rapat dan manfaatkan serangan balik. Mereka bermain jauh lebih disiplin. PSIM, di sisi lain, kalang kabut. Beberapa pergantian pemain dilakukan untuk mengejar ketertinggalan, tapi semuanya mentah. Lini belakang Dewa seperti benteng yang sulit ditembus.
Statistik pertandingan cukup menarik. PSIM memang menguasai 62% penguasaan bola. Tapi angka itu cuma hiasan. Dewa United jauh lebih efektif dan efisien, terlihat dari jumlah tembakan tepat sasaran yang mereka ciptakan. Kemenangan ini adalah soal efektivitas, bukan sekadar penguasaan.
Peluit panjang akhirnya berbunyi. Skor 1-0 bertahan. Kemenangan ini tentu sangat berarti bagi perjalanan Dewa United di kompetisi. Sementara PSIM harus pulang dengan tangan hampa, memetik pelajaran pahit tentang bagaimana mengubah peluang menjadi gol.
Artikel Terkait
PSSI Tegaskan Semua Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia Sah Secara Hukum
LavAni Tundukkan Garuda Jaya 3-0 di Final Four Proliga Surabaya
Veto Rusia, Tiongkok, dan Prancis Ancam Resolusi PBB untuk Buka Kembali Selat Hormuz
KPK Buka Kemungkinan Panggil Anggota Pansus Haji DPR Terkait Kasus Kuota