Petugas Sampah dari Parangloe: Kisah Ironi di Balik Pembangunan

- Selasa, 24 Maret 2026 | 10:00 WIB
Petugas Sampah dari Parangloe: Kisah Ironi di Balik Pembangunan

Jawabannya selalu sama. Di Parangloe, kekayaan itu sudah punya tuan. Ada sistem yang mengatur siapa yang boleh menikmati, dan siapa yang cuma bisa melihat dari kejauhan.

Ini adalah potret nyata dari sebuah sistem yang rakus. Para pemodal hidup dari bumi Parangloe, sementara anak asli kampung seperti Dg Lewa malah menjemput sampah di kota kota yang dibangun dari pasir dan batu tanah kelahirannya sendiri.

Pahit, memang. Saat batu dari Parangloe menjadi pondasi rumah mewah, ia cuma jadi pengangkut sampah di halaman rumah itu. Saat air Bili-Bili mengalir jernih ke kolam renang orang kota, di gubuknya air bersih justru susah didapat.

Ia mungkin tak paham istilah "ketimpangan struktural". Tapi ia merasakan dampaknya setiap hari. Ia paham betul makna kehilangan. Menjadi buruh di atas hasil bumi leluhurnya sendiri, tapi tak boleh ikut menikmatinya. Tak punya tanah, tak punya akses. Hanya punya tenaga untuk dijual agar keluarganya bisa makan.

Kadang, di ujung kompleks, ia berhenti sebentar. Melepas lelah sambil menatap daun kering beterbangan. Pikirannya mungkin melayang ke Parangloe masa lalu: aroma sungai, gemericik air, gunung yang hijau. Rindu itu masih ada, tapi ia tahu tak bisa kembali. Kampungnya sekarang sudah berubah. Gunung terbelah, sungai surut, sawah berubah jadi tambang terbuka. Yang tersisa cuma kenangan.

Jadi ia bertahan di kota. Bukan karena kota lebih baik, tapi karena kampung sudah kehilangan ruhnya. Ia tetap menjemput sampah, karena di situlah ia masih merasa berguna. Setiap karung yang diangkatnya adalah bentuk tanggung jawab. Setiap keringat adalah pengingat bahwa martabat tak ditentukan oleh pekerjaan, tapi oleh kejujuran dalam menjalaninya.

Dan di situlah letak kemuliaannya. Ia tak kaya, tapi jujur. Pendidikannya tak tinggi, tapi paham betul soal keadilan. Ia tak berorasi, tapi hidupnya sendiri adalah kritik tajam atas ketimpangan yang dibiarkan terjadi. Ia saksi bisu bagaimana kekayaan bisa berubah jadi kutukan jika hanya dikuasai segelintir orang.

Jadi lain kali ketika melihat motor sampah lewat di pagi hari, coba ingat Dg Lewa. Bukan cuma sebagai petugas kebersihan, tapi sebagai pengingat akan ironi negeri ini. Di mana yang miskin membersihkan sisa-sisa kemewahan yang bahan bakunya justru dari tanah mereka sendiri.

Ini adalah kisah tentang Parangloe. Tanah subur yang tak jua menyejahterakan anaknya. Tentang sungai yang menghidupi kota, tapi membiarkan kampung asal merana. Tentang negeri yang sibuk menghitung tonase tambang, tapi lupa menghitung manusia di dalamnya.

Dan di tengah semua itu, Dg Lewa tetap bekerja. Menjemput sampah setiap pagi, membersihkan kompleks yang dibangun dari batu, pasir, dan air tanah kelahirannya Parangloe, yang cantik namun getir.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar