Presiden Palestina Peringatkan Bahaya Proyek Israel Raya dan Desak Konferensi Perdamaian

- Selasa, 24 Maret 2026 | 13:15 WIB
Presiden Palestina Peringatkan Bahaya Proyek Israel Raya dan Desak Konferensi Perdamaian

Dari kantornya di Ramallah, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengeluarkan peringatan keras pada Senin (23/3). Situasi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, menurutnya, sedang dalam kondisi berbahaya. Dalam kesempatan yang sama, ia mendesak segera dilakukannya fase kedua perjanjian gencatan senjata di Gaza.

Peringatan itu disampaikan Abbas dalam sebuah percakapan telepon dengan Presiden Indonesia, Prabowo Subianto. Menurut laporan kantor berita WAFA, Abbas menyoroti rencana Israel yang disebut proyek "Israel Raya".

"Rencana itu bukan cuma ancaman lokal," katanya. Ia meyakini proyek tersebut membahayakan seluruh kawasan bahkan dunia, merusak proses politik, dan terang-terangan melanggar resolusi PBB serta hukum internasional.

Di sisi lain, Abbas ternyata juga menyambut beberapa langkah positif. Ia memberikan apresiasi terhadap rencana perdamaian untuk Gaza dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803. Baginya, langkah-langkah itu penting untuk menghentikan peperangan dan meringankan penderitaan rakyatnya.

"Kami juga menyambut baik partisipasi Indonesia dalam mendukung stabilitas dan rekonstruksi di Jalur Gaza," tambah Abbas.

Namun begitu, tekanannya pada komunitas internasional tetap kuat. Abbas menyerukan sikap tegas untuk memaksa Israel menghentikan kebijakan destruktifnya. Ia mendorong diselenggarakannya konferensi internasional yang komprehensif sebuah pertemuan besar yang bertujuan mencapai perdamaian, stabilitas, dan keamanan di kawasan.

Intinya, konferensi itu harus bisa mengakhiri pendudukan. Hanya dengan begitu rakyat Palestina bisa meraih kebebasan dan kemerdekaan. Gaza, tegas Abbas, adalah bagian tak terpisahkan dari Negara Palestina. Ia mendesak penghentian segala pelanggaran Israel yang menyasar warga sipil di sana.

Desakan itu punya alasan yang sangat nyata. Otoritas kesehatan Gaza pada hari yang sama merilis data korban yang suram. Sejak 7 Oktober 2023, jumlah korban tewas telah mencapai 72.263 jiwa. Sedangkan yang luka-luka tercatat 171.944 orang.

Mereka juga memberikan catatan terpisah. Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025, korban jiwa masih bertambah: 687 orang tewas dan 1.845 lainnya terluka. Angka-angka itu menggambarkan betapa rapuhnya situasi, sekalipun gencatan senjata sudah diumumkan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar