Negara-negara terpaksa buru-buru cari rute lain atau mengandalkan cadangan yang ada. Hasilnya bisa ditebak: harga bahan bakar melonjak di mana-mana. Inflasi ikut terpacu, pasar pun was-was menatap konflik yang makin panas.
Di sisi lain, AS sebenarnya sudah lebih dulu bertindak. Militer mereka mengklaim telah menghantam bunker senjata Iran di sekitar selat, yang dianggap mengancam pengiriman energi. Langkah ini dilihat banyak pihak sebagai upaya Washington untuk menenangkan sekutu dan meredam kepanikan pasar.
Dan rupanya, upaya itu mendapat sambutan. Lebih dari dua puluh negara sekutu AS dikabarkan mendukung langkah membuka kembali selat itu. Alasannya klasik tapi masuk akal: stabilitas ekonomi global harus dijaga.
Jadi, sekarang bola ada di pihak Iran. Empat puluh delapan jam itu terasa sangat panjang, atau justru sangat pendek. Semuanya tergantung pilihan di Teheran.
Artikel Terkait
Lingkar Madani Kritik Keras Pengalihan Tahanan Yaqut ke Rumah oleh KPK
ICW Desak KPK Jelaskan Alasan Pengalihan Tahanan Yaqut ke Rumah
KPK Tegaskan Semua Tahanan Berhak Ajukan Tahanan Rumah, Termasuk Yaqut
160 Warga Binaan di Makassar Terima Remisi Idul Fitri, Tiga Langsung Bebas