Bulan Suci di Tanah Seberang: Merenda Rindu dari Makassar dan Samarinda ke Malaysia
Ramadan punya aromanya sendiri. Wangi kolak yang menyeruak, dentang beduk yang sayup-sayup sampai, dan percakapan yang melambat menunggu azan. Itu suasana yang melekat di ingatan.
Bagi kami, perantau dari Makassar dan Samarinda yang sekarang menetap di Malaysia terutama di sekitar Kuala Lumpur dan Selangor bulan puasa ini rasanya seperti jembatan. Sebuah penghubung batin antara kampung halaman yang jauh dengan kehidupan baru di sini. Ia lebih dari sekadar ibadah wajib. Ramadan menjadi ruang pertemuan budaya antara dua negara serumpun, yang punya kemiripan sekaligus perbedaan rasa yang dinamis.
Mirip, Tapi Tak Sama Persis
Kesamaan yang paling jelas tentu di hal-hal pokok. Azan Magrib tetaplah tanda sakral. Masjid-masjid di sini, ambil contoh Masjid Negara, ramai dipenuhi jamaah untuk tarawih. Persis seperti di Masjid Raya Makassar atau masjid tua di Samarinda.
Urusan buka puasa punya pola yang nyaris identik. Kurma dan air manis jadi pembuka. Di rumah sewaan kami, meja kecil selalu dihiasi kurma, air sirop, plus sepiring gorengan. Kebiasaan yang tak jauh beda dengan di Indonesia.
Suasana ramai di sebuah bazar Ramadan di Cheras Baru, Kuala Lumpur.
Di Makassar, ada barongko dan es pisang ijo yang legendaris. Samarinda punya kolak dan kue basah yang menggiurkan. Nah, di Malaysia, kami menemukan padanannya di bazar-bazar Ramadan. Kuih-muih warna-warni, roti john, kuih tepung pelita, sampai martabak manis. Rasanya memang tak persis sama, tapi cukup untuk mengobati rindu.
Keserupaan inilah yang bikin hati terasa lebih enteng. Bahasa yang nyaris sama, logat yang saling paham, dan wajah-wajah Melayu yang akrab. Semuanya menciptakan kesan, "Kita tidak terlalu jauh dari rumah." Itu yang kami rasakan tinggal di kawasan Kampung Cheras Baru, persimpangan antara Kuala Lumpur dan Selangor.
Budaya berbagi juga jadi titik temu yang hangat. Kalau di Indonesia tradisi takjil gratis marak di pinggir jalan, di sini masjid dan komunitas setempat rutin menyediakan "juadah berbuka". Semangat gotong royong dan sedekah ternyata sama kuatnya.
Bazar Ramadan: Godaan Rasa dan Isi Dompet
Tapi jangan salah, Ramadan di Malaysia juga punya ciri khas yang kuat. Yang paling mencolok ya bazar Ramadannya itu. Terorganisir rapi, ada di hampir setiap kawasan. Deretan tenda menawarkan segalanya: nasi kerabu, ayam percik, apam balik, sampai minuman "air balang" yang warna-warni.
Martabak, Roti John, dan Kuih Tepung Pelita: trio takjil wajib di Malaysia.
Bagi lidah orang Makassar dan Samarinda, bazar adalah petualangan. Ragamnya menggoda, tapi rasanya seringkali berbeda. Lebih manis, mungkin. Santannya lebih kental. Atau kari dan rempahnya lebih ringan dibanding coto Makassar atau sop konro yang nendang.
Ritme hariannya juga lain. Di sini, disiplin waktu terasa lebih ketat. Jam kerja banyak yang dipotong, jadwal ibadah diikuti dengan tertib. Bandingkan dengan suasana di Makassar yang lebih riuh dengan dentuman petasan (walau sekarang sudah dibatasi) dan sahur "on the road". Di Malaysia, suasana cenderung lebih tenang dan teratur. Pelan tapi pasti.
Sholat tarawih pun ada variasinya. Kalau di Indonesia, 8 atau 20 rakaat itu biasa, dengan bacaan yang kadang sangat panjang. Di banyak masjid Malaysia, tarawih 8 rakaat dengan tempo cepat lebih umum. Ceramah setelah Isya juga sering singkat saja. Ini bukan soal mana yang benar, tapi lebih pada kebiasaan lokal yang membentuk pengalaman spiritual masing-masing.
Rindu yang Diolah di Dapur
Rindu itu kadang berbentuk sangat spesifik. Bagi orang Makassar, ia hadir sebagai coto atau pallubasa yang susah dicari. Bagi yang dari Samarinda, mungkin nasi kuning khas Kalimantan atau amplang yang renyah.
Artikel Terkait
Harga Emas Pegadaian Anjlok Rp95.000 per Gram pada Rabu
Bone Siapkan Empat Bus Sekolah Ber-AC, Dikawal Satpol PP
Cuaca Makassar Didominasi Berawan, Waspada Hujan Ringan Sporadis
Wolverhampton Wanderers Kalahkan Liverpool 2-1 dengan Gol Injury Time