Perantau Indonesia di Malaysia Rayakan Ramadan dengan Rindu dan Adaptasi Budaya

- Rabu, 04 Maret 2026 | 10:00 WIB
Perantau Indonesia di Malaysia Rayakan Ramadan dengan Rindu dan Adaptasi Budaya

Di Malaysia, bahan-bahan dasar sebenarnya ada. Tapi hasil akhirnya? Tidak selalu sama. Akhirnya, kami belajar beradaptasi. Memasak sendiri, berbagi dapur dengan sesama WNI, atau menciptakan fusion ala perantau: rendang bertemu nasi lemak, konro bersanding dengan sambal belacan.

Namun ada juga kejutan yang menyenangkan. Seperti bubur lambuk yang dibagikan gratis dari masjid. Teksturnya lembut, rempahnya terasa, dan itu jadi simbol keramahan Ramadan ala Malaysia yang sangat kami hargai.

Di sisi lain, godaan gula dari minuman warna-warni seperti sirap Bandung di bazar juga jadi pengingat untuk tetap menjaga kesehatan di bulan puasa.

Sunyi, Komunitas, dan Pelajaran Hidup

Jujur saja, Ramadan di perantauan punya tantangan tersendiri. Yang paling halus adalah rasa sepi. Tanpa keriuhan keluarga besar, buka puasa bisa terasa sangat sunyi. Panggilan video jadi pengganti pelukan yang tak terjangkau.

Momen berbuka sederhana bersama keluarga inti di rantau.

Di sinilah peran komunitas menjadi penting. Perkumpulan mahasiswa, kelompok pekerja, atau keluarga Indonesia lain sering mengadakan buka bersama. Meski sederhana, itu cukup untuk menghangatkan hati dan mengusir sepi.

Tantangan lain yang lebih nyata: biaya hidup. Bazar Ramadan itu menggoda, tapi harga di kota besar Malaysia bisa bikin kantong jebol. Kami akhirnya belajar mengatur anggaran, lebih rajin masak sendiri, dan berdisiplin. Pelajaran finansial yang praktis, sih.

Lalu, ada juga soal identitas. Menjadi Muslim Indonesia di Malaysia itu unik. Kita berada di ruang yang sangat dekat, tapi tetap berbeda. Perbedaan kecil dalam cara ibadah atau selera makanan kadang bikin canggung. Tapi justru dari situlah kami belajar satu hal berharga: bahwa Islam dan budaya Melayu itu tidak tunggal. Ia beragam, lentur, dan dinamis.

Makna yang Tumbuh dalam Keheningan

Pada akhirnya, Ramadan di tanah seberang mengajarkan kami tentang kedewasaan. Ibadah bukan cuma soal kebiasaan turun-temurun, tapi lebih pada kesadaran yang tumbuh dari dalam.

Tanpa hiruk-pikuk kampung halaman, kami justru menemukan ruang untuk refleksi yang lebih personal. Sahur yang sunyi jadi waktu untuk merenung. Tarawih di masjid yang asing melatih kerendahan hati.

Secara budaya, pengalaman ini membuka mata. Kami melihat betapa dekatnya Indonesia dan Malaysia, sekaligus betapa indahnya perbedaan yang ada. Kesamaan bahasa jadi jembatan, sementara perbedaan rasa dan ritme justru memperkaya wawasan.

Kami berangkat dari Makassar dan Samarinda membawa cerita. Dan pulang nanti (atau tetap di sini), kami membawa perspektif baru. Yang lebih humanis, inklusif, dan mendalam tentang spiritualitas.

Ramadan, pada hakikatnya, bukan cuma tentang di mana kita berbuka. Tapi tentang dengan siapa, dan bagaimana kita memaknai setiap lapar dan dahaga itu. Di Malaysia, kami belajar merenda rindu menjadi rasa syukur. Mengolah perbedaan menjadi pelajaran.

Dan ketika takbir Idul Fitri nanti berkumandang entah di Kuala Lumpur, Makassar, atau Samarinda hati ini tahu. Kampung halaman mungkin jauh di mata, tapi iman dan rasa persaudaraan membuatnya terasa selalu dekat.

Penulis: Nasrullah
Dosen Prodi Sastra Inggris, Universitas Mulawarman
Sedang menempuh program doktor di Malaysia

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar