Wakil Ketua BS OJK Soroti Kontradiksi Nilai Ramadhan dengan Korupsi Rp310 Triliun

- Senin, 23 Februari 2026 | 06:40 WIB
Wakil Ketua BS OJK Soroti Kontradiksi Nilai Ramadhan dengan Korupsi Rp310 Triliun

Angka tersebut merepresentasikan sumber daya yang seharusnya bisa dialokasikan untuk mengentaskan kemiskinan, membangun sekolah, atau memperbaiki infrastruktur. Praktik semacam ini jelas bertentangan dengan prinsip amanah dan keadilan sosial yang justru diajarkan dalam Ramadhan.

Menuju Transformasi Spiritual dan Institusional

Oleh karena itu, pemberantasan korupsi harus dilihat sebagai prasyarat utama pembangunan. Reformasi tata kelola memerlukan langkah sistematis, mulai dari penguatan sistem pencegahan, transparansi anggaran, hingga digitalisasi layanan publik. Komitmen global Indonesia, seperti dalam proses aksesi ke OECD, juga menuntut standar integritas yang lebih tinggi.

Di sinilah esensi Ramadhan menemukan relevansinya yang paling operasional. Transformasi spiritual dari bulan suci ini tidak boleh berhenti pada kesalehan personal. Nilai kejujuran, pengendalian diri, dan tanggung jawab harus diterjemahkan ke dalam desain kebijakan dan budaya birokrasi yang akuntabel.

Tanpa integritas pada level individu, regulasi yang baik kehilangan ruhnya. Sebaliknya, tanpa sistem yang kuat, niat baik personal mudah tergerus tekanan struktural. Keduanya harus berjalan beriringan.

Menyemai Kultur Integritas dan Empati yang Operasional

Pada akhirnya, Ramadhan harus menjadi momentum strategis untuk meruntuhkan budaya koruptif dan membangun orientasi baru: dari budaya mengambil menjadi budaya memberi. Pengalaman berpuasa seharusnya mengasah empati menjadi lebih dari sekadar simpati, melainkan komitmen etis untuk menciptakan keadilan.

Dalam ranah institusional, empati ini menuntut kemampuan para pembuat kebijakan untuk memahami kebutuhan riil masyarakat dan menerjemahkannya dalam pelayanan yang tidak diskriminatif. Etos kerja yang humanis dan profesional harus menjadi manifestasi konkret dari nilai amanah.

Dengan berlandaskan pada fondasi integritas dan kepedulian yang diperkuat selama Ramadhan, tata kelola yang berkeadilan dan pembangunan yang lebih bermakna bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan. Semangat bulan suci ini perlu terus hidup, menginspirasi perubahan nyata sepanjang tahun.

Editor: Redaksi MuriaNetwork


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar