Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah tokoh belakangan ini memang menimbulkan beragam tafsir. Ada yang menyebutnya sebagai pertemuan dengan kalangan oposisi. Namun, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi membantah keras narasi itu.
Dia mengakui, memang ada beberapa nama yang bertemu dengan Presiden. Di antaranya, mantan Kabareskrim Susno Duadji dan peneliti senior BRIN, Profesor Siti Zuhro. Tapi, kata Prasetyo, menyebut mereka 'oposisi' itu tidak tepat.
"Ndak, ndak ada yang oposisi. Itu kan tokoh-tokoh masyarakat juga yang Bapak Presiden terbuka untuk berdialog, menerima masukan," tegas Prasetyo di Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu lalu.
Menurutnya, pertemuan itu lebih merupakan dialog biasa. Presiden ingin mendengar masukan sekaligus memaparkan program-program yang sudah dijalankannya.
"Kemudian juga beliau menjelaskan program-program yang dalam satu tahun lebih, beberapa bulan ini beliau jalankan," sambungnya. "Yang semua memang berorientasi untuk kepentingan rakyat, orientasi untuk kepentingan bangsa dan negara gitu."
Soal apa yang dibicarakan, Prasetyo memberikan sedikit gambaran. Dengan Profesor Siti Zuhro, obrolan berkutat seputar masalah kepemiluan. Sementara diskusi dengan Susno Duadji lebih ke arah penegakan hukum. "Macam-macam di situ ada beberapa banyak," ujarnya ringkas, tanpa merinci lebih jauh tokoh lain yang hadir.
Namun begitu, isu pertemuan dengan 'tokoh oposisi' ini bukan datang dari angin. Sehari sebelumnya, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin sudah lebih dulu menyebut-nyebutnya.
Sjafrie mengungkapkan, Prabowo memang bertemu dengan beberapa tokoh nasional yang – dalam tanda kutip – disebut oposisi. Pertemuan berlangsung di kediaman pribadi Presiden di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, pada Jumat malam.
"Oleh karena itulah saya ingin menyampaikan bahwa kita harus realistis melihat situasi," kata Sjafrie di hadapan para wartawan di Cibodas, Bogor.
Ia menegaskan, inti dari pertemuan tersebut adalah bagaimana negara harus dikelola dengan baik oleh semua pihak. Prabowo, lewat pertemuan itu, ingin mengajak semua elemen bersama-sama membenahi negara.
Jadi, ada dua versi yang beredar. Satu sisi menyebutnya pertemuan dengan oposisi, sisi lain membantah dan menyebutnya sekadar dialog dengan tokoh masyarakat. Yang jelas, pertemuan itu terjadi. Dan isu ini menunjukkan dinamika politik yang terus bergulir, meski narasinya masih diperdebatkan.
Artikel Terkait
Penundaan 11 Jam Sriwijaya Air SJ-581, Penumpang Mengeluhkan Minimnya Kompensasi dan Komunikasi
PSM Makassar Kalahkan Bhayangkara 2-1, Modal Penting Jauhi Zona Degradasi Liga 1
Sirine Banjir Berbunyi di Bekasi, TMA Kali Bekasi Capai Status Siaga 2
40 Ormas Islam Laporkan Grace Natalie, Ade Armando, dan Abu Janda ke Bareskrim atas Dugaan Ujaran Kebencian Terkait Video Jusuf Kalla