Delapan Takjil Khas Sulsel yang Wajib Ada Saat Berbuka Puasa

- Minggu, 22 Februari 2026 | 15:00 WIB
Delapan Takjil Khas Sulsel yang Wajib Ada Saat Berbuka Puasa

Pisang Epe’, Manisnya Pisang Bakar dengan Gula Aren

Meski populer sebagai jajanan malam, pisang epe’ juga sangat cocok dijadikan takjil penutup yang manis. Pisang kepok setengah matang dibakar di atas bara, kemudian dipipihkan dan disiram dengan saus gula aren cair yang legit dan harum. Meski kini banyak varian topping seperti keju atau cokelat, cita rasa tradisionalnya dengan gula aren tetap menjadi favorit utama banyak orang.

Dadara Santan, Lembutnya Dadar Gulung dengan Kuah Khas

Kehadiran dadara santan di lapak-lapak takjil seolah menandai datangnya bulan Ramadan. Hidangan ini terdiri dari kulit dadar tipis yang digulung dengan isian unti kelapa manis. Yang membedakannya adalah penyajiannya yang dilengkapi kuah santan, siraman sirup merah, dan es serut. Teksturnya yang lembut dan rasanya yang tidak terlalu berat membuatnya menjadi pilihan yang tepat untuk berbuka.

Sirup Markisa, Segarnya Rasa Asam-Manis dari Dataran Tinggi

Bagi yang menginginkan minuman pembuka dengan karakter rasa yang kuat, sirup markisa khas Makassar adalah jawabannya. Sirup ini banyak menggunakan markisa berkualitas dari daerah seperti Malino di Gowa, menghasilkan perpaduan rasa manis dan asam yang seimbang dan menyegarkan. Dinikmati dalam keadaan dingin, sirup markisa efektif melepas dahaga setelah seharian berpuasa.

Barongko, Kudapan Spesial Berbalut Daun Pisang

Barongko kerap dianggap sebagai takjil spesial yang tidak selalu tersedia setiap hari. Kue tradisional ini terbuat dari pisang matang yang dihaluskan, dicampur dengan telur, santan, dan gula, lalu dikukus dalam pembungkus daun pisang. Teksturnya sangat lembut, mirip puding, dengan rasa manis alami dari pisang. Disajikan dingin, barongko memberikan akhir buka puasa yang mengenyangkan dan berkesan.

Keberagaman takjil khas Sulawesi Selatan ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan fisik setelah berpuasa, tetapi juga tentang melestarikan warisan kuliner dan merayakan kekayaan rasa lokal. Setiap gigitan atau tegukan seolah membawa cerita dan tradisi yang telah mengakar, menjadikan momen berbuka puasa lebih bermakna dan penuh kenangan.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar