"Satu klaster GPU untuk pelatihan model besar dapat mengonsumsi listrik setara kebutuhan ribuan rumah tangga," jelas Prof. Indrabayu.
"Transformasi digital yang tampak ringan di layar pengguna sesungguhnya menyimpan beban energi yang sangat berat di baliknya."
Menurutnya, tren ini akan terus naik seiring akselerasi komputasi awan, Internet of Things, dan AI generatif. Imbasnya bisa luas.
"Negara-negara yang tidak menyiapkan bauran energi terbarukan dan efisiensi distribusi berisiko menghadapi tekanan tarif listrik, ketimpangan akses energi, bahkan konflik prioritas antara kebutuhan industri dan kebutuhan rumah tangga," katanya.
Ia juga mengingatkan adanya ironi besar. Isu disrupsi pekerjaan mungkin hanya bagian dari permukaan.
"Kekhawatiran terbesar bukan hanya hilangnya lapangan kerja, tetapi potensi tergerusnya alokasi energi publik ketika infrastruktur digital bersaing langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat," ujarnya.
"Di sinilah kebijakan energi berbasis keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan menjadi sangat krusial," tambahnya.
Meski mengingatkan bahaya, dengan sikap rendah hati ia tetap menegaskan peran positif AI bagi manusia.
"AI telah dan akan terus membantu manusia di bidang kesehatan, pendidikan, pertanian presisi, dan mitigasi bencana," tegasnya.
"Namun manusia harus tetap menjadi subjek utama yang mengendalikan arah perkembangan teknologi agar kecerdasan buatan tidak sepenuhnya menggantikan tanggung jawab dan kebijaksanaan insani."
Artikel Terkait
Leeds United Singkirkan West Ham Lewat Drama Adu Penalti di Perempat Final FA Cup
Frankfurt Gagal Pertahankan Keunggulan, Köln Bangkit untuk Raih Poin 2-2
Petrokimia Gresik Sapu Bersih Jakarta Electric PLN 3-0 di Final Four Proliga
Keputusan Tahanan Rumah Yaqut Picu Gelombang Permohonan Serupa di KPK