Laporan yang beredar awal pekan ini cukup mengejutkan. Mantan bos Google, Eric Schmidt, membeberkan peringatan keras: Amerika Serikat nyaris kehabisan listrik. Pemicunya? Ledakan kecerdasan buatan yang tak terbendung. Menurut publikasi Zoomit pada Senin lalu, 17 Februari 2026, negeri Paman Sam butuh tambahan daya listrik yang sangat besar sekitar 92 gigawatt hanya untuk menopang pusat data raksasa yang jadi tulang punggung industri AI.
Schmidt bilang, Amerika "sedang kehabisan listrik." Kalimat itu bukan hiperbola. Pusat data bekerja 24 jam nonstop. Sistem pendinginnya harus ekstrem. Belum lagi komputasi untuk model bahasa besar dan infrastruktur AI generatif yang haus daya, menyerap energi dalam skala gigawatt. Intinya, energi kini jadi titik genting. Bukan lagi algoritma atau chip canggih yang jadi masalah utama.
Coba bayangkan skalanya. Satu pembangkit listrik tenaga nuklir rata-rata cuma hasilkan 1,5 gigawatt. Artinya, untuk memenuhi tambahan 92 gigawatt tadi, perlu puluhan fasilitas baru. Jurang antara lonjakan permintaan digital dan kesiapan infrastruktur energi nasional ternyata sangat lebar. Dan ini baru permulaan.
Data dari Lawrence Berkeley National Laboratory memperkuat kekhawatiran itu. Pada 2024, pusat data sudah menyedot 4,4 persen listrik Amerika. Angka itu berpotensi melonjak drastis jadi 12 persen pada 2028. Riset terpisah dari Carnegie Mellon University bahkan memperkirakan, lonjakan permintaan ini bisa mendongkrak harga produksi listrik hingga 25 persen pada 2030, terutama di kawasan yang penuh pusat data.
Tekanan ini sudah terasa di level korporasi. Tiga raksasa AI Microsoft, OpenAI, dan Anthropic telah mengambil langkah nyata. Antara Januari hingga Februari 2026, mereka berkomitmen menanggung penuh biaya listrik pusat data mereka. Ini sinyal jelas: listrik telah berubah dari sekadar biaya operasional menjadi variabel strategis yang menentukan hidup-mati model bisnis.
Di tengah situasi yang serba mendesak ini, muncul ide yang terdengar seperti fiksi ilmiah. CEO Alphabet, Sundar Pichai, pada Desember 2025 lalu kembali menegaskan komitmennya pada Proyek Suncatcher. Targetnya? Uji coba prototipe pusat data orbital pada 2027 yang memanfaatkan energi surya di luar angkasa. Pichai menyebutnya "moonshot" yang ambisinya setara dengan pengembangan Waymo, dan kini lebih mungkin berkat kemajuan teknologi peluncuran roket komersial.
Dinamika global ini diamati dengan saksama oleh para pakar di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Prof. Dr. Ir. Indrabayu, seorang Guru Besar dan pakar di bidang Kecerdasan Buatan, Data Mining, dan Multimedia Analytic, memberikan pandangannya.
"Pada awalnya saya melihat AI sebagai persoalan perangkat lunak, algoritma, dan performa komputasi semata," ujarnya.
"Namun perkembangan mutakhir menunjukkan bahwa fondasi paling mendasar dari AI justru terletak pada ketersediaan energi listrik yang stabil dan berkelanjutan."
Ia menjelaskan, setiap respons cepat dan presisi dari sistem AI yang kita nikmati sebenarnya ditopang oleh ribuan server yang bekerja keras tanpa henti di balik layar.
"Satu klaster GPU untuk pelatihan model besar dapat mengonsumsi listrik setara kebutuhan ribuan rumah tangga," jelas Prof. Indrabayu.
"Transformasi digital yang tampak ringan di layar pengguna sesungguhnya menyimpan beban energi yang sangat berat di baliknya."
Menurutnya, tren ini akan terus naik seiring akselerasi komputasi awan, Internet of Things, dan AI generatif. Imbasnya bisa luas.
"Negara-negara yang tidak menyiapkan bauran energi terbarukan dan efisiensi distribusi berisiko menghadapi tekanan tarif listrik, ketimpangan akses energi, bahkan konflik prioritas antara kebutuhan industri dan kebutuhan rumah tangga," katanya.
Ia juga mengingatkan adanya ironi besar. Isu disrupsi pekerjaan mungkin hanya bagian dari permukaan.
"Kekhawatiran terbesar bukan hanya hilangnya lapangan kerja, tetapi potensi tergerusnya alokasi energi publik ketika infrastruktur digital bersaing langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat," ujarnya.
"Di sinilah kebijakan energi berbasis keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan menjadi sangat krusial," tambahnya.
Meski mengingatkan bahaya, dengan sikap rendah hati ia tetap menegaskan peran positif AI bagi manusia.
"AI telah dan akan terus membantu manusia di bidang kesehatan, pendidikan, pertanian presisi, dan mitigasi bencana," tegasnya.
"Namun manusia harus tetap menjadi subjek utama yang mengendalikan arah perkembangan teknologi agar kecerdasan buatan tidak sepenuhnya menggantikan tanggung jawab dan kebijaksanaan insani."
Pada akhirnya, krisis energi yang dipicu AI ini lebih dari sekadar soal teknis atau korporasi. Ini adalah cermin bagi peradaban modern. Sebuah refleksi tentang bagaimana kita menyeimbangkan nafsu berinovasi dengan prinsip keberlanjutan dan kemaslahatan bersama. Pertanyaan mendasarnya kini bergeser. Bukan lagi tentang seberapa pintar AI yang bisa kita ciptakan, tapi seberapa bijak kita mengelola daya baik daya listrik maupun daya nalar untuk masa depan yang kita inginkan.
Artikel Terkait
Residivis Pencuri Motor Ustaz di Surabaya Babak Belur Dihajar Massa
Kos-kosan di Makassar Hangus Terbakar, Seluruh Penghuni Selamat karena Salat Tarawih
Pengendara Motor Tewas dalam Kecelakaan di Jalur Lintas Selatan Pacitan
Pengusaha Kosmetik Mira Hayati Dieksekusi ke Penjara Usai Vonis Kasasi Tetap