“Kalau kita lihat sejarah bangsa Indonesia, memang sidang isbat selalu jadi faktor penentu lebaran dan puasa. Dalam dua tahun terakhir memang ada perkembangan dan perbedaan, tetapi kita berusaha menjadi media penyatu dalam penentuan hari penting keagamaan,”
ujar Menag di Jakarta, Selasa ini.
Pernyataannya itu menyentuh realita yang ada. Memang, dalam beberapa tahun terakhir kerap muncul dinamika perbedaan penetapan di tengah masyarakat. Beberapa ormas lebih menitikberatkan pada hisab, sementara yang lain menjadikan rukyat sebagai dasar utama, tentu dengan dukungan perhitungan astronomi yang canggih.
Namun begitu, Nasaruddin Umar melihat perbedaan pandangan ini justru sebagai bagian dari khazanah fikih yang sudah lama berkembang. Di tengah keragaman itu, pemerintah berupaya keras menjadikan sidang isbat sebagai ruang pemersatu. Kemenag mengambil posisi sebagai representasi negara yang mengonfirmasi posisi hilal langsung di lapangan, lalu memutuskan hasilnya melalui mekanisme musyawarah sidang isbat.
Artikel Terkait
KPK Buka Kemungkinan Panggil Anggota Pansus Haji DPR Terkait Kasus Kuota
Liga Arab Dukung Resolusi DK PBB untuk Amankan Selat Hormuz
Tiga Pelaku Penyiraman Air Keras di Bekasi Ditangkap, Motifnya Dendam Pribadi
Dua Pelaku Penganiayaan Siswi di Luwu Utara Malah Berjoget di Kantor Polisi