JAKARTA – Ada paradoks menarik di industri game kita. Jumlah pemainnya luar biasa, mencapai 154 juta orang. Nilai pasarnya pun tak main-main, menembus US$2 miliar. Tapi, di balik angka gemilang itu, tersimpan fakta yang bikin miris: 95% pasar dikuasai oleh game-game buatan luar negeri. Sisanya, cuma 5%, adalah porsi untuk developer lokal.
Agung Satria Permana, seorang peneliti dari Center of Industry, Trade and Investment INDEF, membeberkan data ini dalam podcast Watch on Economy. Menurutnya, posisi Indonesia sebenarnya cukup mentereng di kancah global.
"Kita peringkat pertama di Asia Tenggara, bahkan ke-15 di dunia untuk kapitalisasi pasar game," ujarnya.
Namun begitu, ia melanjutkan, "Dari US$2 miliar tadi, kontribusi developer dalam negeri sangat kecil. Hanya 5%. Sebagian besar justru dinikmati pelaku asing."
Lantas, apa yang bikin kalah bersaing? Agung menyoroti kesenjangan teknologi. Developer luar sudah jauh melesat dengan grafis HD yang nyaris mirip asli. Sementara, beberapa game lokal masih terkesan jadul, baik dari segi tampilan maupun mesin permainannya.
Persoalan lain adalah skala ekonomi. Industri game dalam negeri dinilai belum efisien. Alhasil, dana yang seharusnya bisa dipakai untuk marketing besar-besaran, malah habis untuk biaya produksi. Mereka belum mencapai titik optimal untuk bersaing secara finansial.
Kalau lihat preferensi pemain, mobile gaming masih jadi raja. Pangsa pasarnya sekitar 60%. Diikuti PC gaming sebesar 25%, dan konsol menyumbang 15%. Dominasi game ponsel ini wajar. Model free-to-play-nya lebih terjangkau ketimbang harus beli perangkat konsol atau PC yang harganya selangit.
Artikel Terkait
Meri Hoegeng, Istri Sang Kapolri Legendaris, Tutup Usia di Usia 100 Tahun
Dua Sahabat, Satu Kementerian: Nasib Berbeda di Balik Meja Kekuasaan
Babah Alun: Bergabung dengan Board of Peace Bawa Indonesia Lebih Diperhitungkan
Wapang TNI Desak Pembangunan Koperasi Merah Putih Dikebut