Di tengah kekacauan itu, vendor penyedia layanan, SPPG Purwosari, akhirnya angkat bicara. Kepalanya, Nasihul Umam, menyampaikan permintaan maaf terbuka. Dia menyatakan kesiapan untuk bertanggung jawab penuh, termasuk menanggung seluruh biaya pengobatan korban. Vendor yang melayani 13 sekolah di Kudus ini kini jadi sorotan utama.
Sementara itu, di lapangan sekolah, drama lain terjadi. Sebuah ambulans yang hendak meluncur justru terperosok lumpur di lapangan yang becek. Situasi sempat chaotic.
Tapi di situlah momen mengharapkan muncul. Melihat kendaraan penyelamat terjebak, puluhan siswa seragam putih-abu-abu tanpa pikir panjang menerjang kubangan. Mereka mendorong bersama, bahu-membahu, sampai roda ambulans itu kembali berputar. Seragam kotor, tapi solidaritas mereka bersih dan nyata.
Menanggapi tragedi ini, Bupati Kudus Sam'ani Intakoris langsung turun ke lokasi. Dia menegaskan pemerintah akan menanggung semua biaya perawatan melalui BPJS Kesehatan. Sampel makanan dan feses korban sudah diamankan untuk diperiksa lebih lanjut di lab. Kudus benar-benar dalam siaga darurat.
Hari ini, SMA 2 Kudus bukan lagi tempat belajar biasa. Ia menjadi saksi bisu sebuah kegagalan sistem yang nyaris merenggut masa depan ratusan anak muda. Program nasional yang diagung-agungkan membawa gizi, justru mendatangkan armada ambulans dari seluruh penjuru kota.
Sebuah pelajaran pahit yang tak akan mudah dilupakan.
Artikel Terkait
Toren Air Gratis untuk Warga Jakarta yang Kesulitan Air Bersih
Lemkapi Bongkar Upaya Adu Domba Kapolri dan Presiden Prabowo
Pernyataan Sampai Titik Darah Penghabisan Picu Ancaman Posisi Kapolri
Gempa Magnitudo 5,3 Guncang Tahuna, Getaran Terasa hingga Daratan