Gelombang solidaritas untuk Iran terus mengalir dari berbagai penjuru dunia, menyusul konflik dengan Israel dan Amerika Serikat. Salah satu yang cukup mencuri perhatian datang dari masyarakat Tiongkok. Rupanya, dukungan itu tak cuma sekadar ucapan. Banyak warga yang sampai mendatangi atau menelepon Kedutaan Besar Iran di Beijing dengan satu niat: ingin menyumbangkan uang.
Situasi ini justru membuat pihak kedutaan agak kelabakan. Mereka tentu terharu, tapi di saat yang sama, bingung harus bersikap bagaimana. Soalnya, Iran sendiri sebenarnya tidak membutuhkan bantuan keuangan. Yang mereka perlukan adalah dukungan moral dan politik di forum internasional untuk melawan apa yang disebutnya sebagai agresi.
Alhasil, kedutaan pun terpaksa membuat pengumuman resmi di platform media sosial Douyin. Intinya sederhana: terima kasih banyak, tapi sumbangan uang tidak diterima.
Isi pernyataannya kurang lebih begini:
Kami berterima kasih kepada rakyat Tiongkok atas dukungan mereka yang tulus; bantuan keuangan tidak akan diterima saat ini.
Kedutaan Besar Iran di Tiongkok menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada rakyat Tiongkok yang beradab dan adil. Semangat kemanusiaan Anda, pilihan Anda untuk menegakkan keadilan, dan dukungan Anda kepada rakyat Iran dalam mengutuk keras serangan brutal Amerika Serikat dan Israel terhadap anak-anak dan warga sipil Iran adalah tindakan kebaikan yang tidak akan pernah kami lupakan.
Pengumuman itu kemudian dilanjutkan dengan penjelasan yang lebih formal. Mereka menyatakan, setelah menilai kapasitas nasional, Iran untuk saat ini tidak berencana menerima bantuan keuangan dari organisasi atau individu manapun di Tiongkok. "Jika situasinya berubah di masa mendatang dan hal itu menjadi perlu, kami akan memberitahukan Anda secara terpisah," begitu bunyi penutupnya.
Di balik gelombang simpati publik ini, dukungan resmi dari pemerintah Tiongkok sendiri sudah jelas dan terbuka. Partai Komunis China dan pemerintahnya secara gamblang mendukung Iran dalam mempertahankan kedaulatan dan hak untuk membela diri.
Posisi ini ditegaskan langsung oleh Menteri Luar Negeri Wang Yi. Dalam sebuah pembicaraan dengan rekannya dari Iran, Abbas Araghchi, Wang tidak ragu menyebut AS dan Israel telah melanggar Piagam PBB. Dia mendesak agar perang dihentikan dan jalan diplomatik segera ditempuh.
Jadi, narasinya jelas. Ada dukungan kuat dari tingkat pemerintah, dan ada pula empati spontan dari masyarakat biasa yang sampai ingin mengulurkan bantuan materiil. Meski untuk yang terakhir ini, pihak Iran dengan halus namun pasti menolaknya. Mereka lebih menghargai solidaritas itu sendiri ketimbang nominal uangnya.
Artikel Terkait
Prajurit TNI Korban Ledakan Proyektil di Lebanon Meninggal Dunia
Netanyahu Tuding Hizbullah Gagalkan Proses Damai Israel-Lebanon, IDF Serang Markas di Lebanon Selatan
Jakarta LavAni Kalahkan Bhayangkara Presisi di Gim Pertama Grand Final Proliga 2026
Jakarta Raih Penghargaan Nasional Berkat Sistem Mobilitas Terpadu