Wall Street Tertekan, Ketegangan AS-Iran dan Kekhawatiran AI Tekan Saham Teknologi

- Kamis, 23 April 2026 | 22:15 WIB
Wall Street Tertekan, Ketegangan AS-Iran dan Kekhawatiran AI Tekan Saham Teknologi

IDXChannel Wall Street kembali tertekan pada perdagangan Kamis (23/4/2026). Investor masih wait and see menunggu kejelasan soal perang AS-Iran. Di sisi lain, laporan keuangan yang hasilnya campur aduk bikin orang kembali khawatir soal gangguan AI di sektor perangkat lunak. Bikin dagangan saham teknologi makin tertekan.

Iran makin memperketat cengkeraman di Selat Hormuz. Teheran baru aja merilis rekaman pasukan komando mereka yang menyerbu sebuah kapal kargo besar. Kapal itu diklaim sudah mereka sita pada Rabu. Tuntutannya jelas: AS harus mencabut blokade laut terhadap pelabuhan Iran. Situasi ini bikin pasar tambah waswas.

Menurut laporan dari Reuters, Dow Jones Industrial Average ambles 154,00 poin atau 0,30 persen ke 49.341,55. S&P 500 juga ikut merosot 6,61 poin atau 0,10 persen ke 7.131,08. Nasdaq Composite turun 57,27 poin atau 0,26 persen ke 24.593,45. Angka-angka ini menunjukkan tekanan yang merata di ketiga indeks utama.

Yang bikin tambah pusing, harga minyak sudah di atas USD100 per barel. Risiko lonjakan inflasi pun mengintai. Data Kamis menunjukkan jumlah warga AS yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran cuma naik sedikit. Tapi ancaman kenaikan harga akibat perang masih tetap membayangi ekonomi.

Musim laporan keuangan sejauh ini sebenarnya tergolong kuat. Namun begitu, belum ada yang mencerminkan dampak dari guncangan pasokan energi. Jadi pasar masih bingung mau ke mana.

Saham IBM anjlok 12 persen. Penyebabnya, pertumbuhan pendapatan melambat di kuartal pertama karena bisnis perangkat lunaknya melemah. Hasil ini bikin orang kembali ingat bahwa model bisnis tradisional di sektor software bisa terganggu oleh alat-alat AI baru. Kekhawatiran itu nyata.

Saham Microsoft dan Adobe masing-masing turun 2,6 persen dan 7,3 persen. Sektor teknologi informasi di S&P 500, yang turun 0,6 persen, jadi penekan terbesar indeks acuan. Untungnya, sektor utilitas naik 1,8 persen, jadi sedikit membantu membatasi penurunan.

Pelemahan saham teknologi juga menyeret Dow dan Nasdaq ke bawah. Saham Tesla turun 3,8 persen setelah perusahaan menaikkan rencana belanja lebih dari USD25 miliar tahun ini. Perusahaan itu sedang menjalankan salah satu investasi terbesar dalam sejarahnya. CEO Elon Musk mengalihkan dana ke bidang kecerdasan buatan, robotika, dan chip. Tapi pasar belum sepenuhnya yakin.

Saham Lockheed Martin juga ikut terpuruk, turun 3,7 persen setelah melaporkan laba kuartal pertama yang lebih rendah. Sebaliknya, saham Texas Instruments justru melonjak 10,5 persen. Mereka memproyeksikan pendapatan dan laba kuartal kedua di atas ekspektasi Wall Street. Lumayan jadi angin segar.

Saham Tilray Brands dan Canopy Growth masing-masing naik 5,8 persen dan 6,5 persen. Menariknya, jumlah saham yang naik lebih banyak daripada yang turun dengan rasio 1,04 banding 1 di NYSE dan 1,51 banding 1 di Nasdaq. Jadi meski indeks utama merah, masih ada beberapa sektor yang bergerak positif.

S&P 500 mencatat 28 saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 5 terendah baru. Sementara itu, Nasdaq mencatat 74 tertinggi baru dan 41 terendah baru. Angka-angka ini menunjukkan pergerakan yang cukup dinamis di pasar.

(NIA DEVIYANA)

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar