Di tengah hiruk-pikuk acara Pertemuan Saudagar Bugis Makassar 2026 di Makassar, suara Prof Andi M Syakir terdengar lantang. Ketua Harian KKSS itu punya pesan tegas: kunci percepatan ekonomi nasional ada di tangan para pengusaha. Tapi bukan sekadar menambah jumlahnya. Yang lebih krusial adalah meningkatkan kualitas mereka.
“Negara maju punya rasio wirausaha yang tinggi,” ujarnya, mengingatkan bahwa Indonesia masih tertinggal dalam hal ini. Itu fakta yang tak bisa dipungkiri.
Bukan Cuma Tajir, Tapi Juga Cinta Tanah Air
Namun begitu, Syakir punya kriteria khusus. Saudagar yang dibutuhkan bangsa ini bukan cuma yang kuat kantongnya. Lebih dari itu, mereka harus punya jiwa nasionalisme yang mengakar.
“Harus ada semangat Merah Putih di dada para pengusaha, sehingga orientasinya tidak hanya keuntungan, tetapi juga kontribusi nyata bagi bangsa,” tegasnya.
Baginya, mental ini yang akan membedakan.
Lingkungan Global Makin Rumit, Kemandirian Jadi Keharusan
Dia lalu menyinggung situasi geopolitik global yang makin kompleks dan tak menentu. Menurutnya, kondisi inilah yang justru jadi alasan kuat bagi Indonesia untuk berbenah. Kemandirian ekonomi bukan lagi wacana, melainkan sebuah keharusan.
Dalam konteks ini, ia menyambut baik langkah pemerintahan Prabowo Subianto yang mendorong kemandirian pangan. Itu dinilainya sebagai strategi ketahanan nasional yang tepat.
Apresiasi untuk Langkah Nyata Swasembada
Syakir juga tak lupa memberi apresiasi. Sorotannya tertuju pada Andi Amran Sulaiman, Ketua Umum KKSS, yang aktif menggerakkan program swasembada pangan nasional.
Program itu berjalan sistematis, katanya, dengan pendekatan ilmiah dan sentuhan teknologi. Meski untuk saat ini, fokusnya masih pada komoditas beras.
KKSS Tak Hanya Bicara, Tapi Bertindak
Sebagai bukti komitmen, KKSS kini tak main-main. Mereka membentuk dua satuan tugas strategis: satu di bidang pendidikan, satu lagi di ekonomi. Langkah konkret ini menunjukkan niat mereka untuk tak cuma berperan di tingkat nasional, tapi juga menyentuh skala global.
Ekosistem dan Semangat Muda
Lalu, bagaimana dengan generasi penerus? Syakir menegaskan peran vital generasi muda Bugis Makassar. Tradisi kesaudagaran yang sudah ada harus dilanjutkan, tapi dengan daya saing yang lebih tinggi.
Potensinya besar, ia akui. Masyarakat Sulawesi Selatan punya bakat alamiah di bidang ini. Hanya saja, semua itu perlu didukung ekosistem yang benar-benar kondusif.
“Forum seperti PSBM menjadi ruang penting dalam membangun jejaring dan memperkuat ekosistem ekonomi,” jelasnya.
Lebih Dari Sekadar Acara Seremonial
Nah, soal PSBM 2026 sendiri, agenda ini dirancang agar tidak sekadar seremonial. Aksi nyata yang diusung antara lain pertemuan bisnis langsung, penguatan kemitraan strategis, dan yang tak kalah penting: kegiatan sosial untuk masyarakat sekitar.
“Tidak hanya kualitas vertikal yang dibangun, tetapi juga kualitas horizontal melalui kepedulian sosial,” tambahnya.
Persatuan adalah Fondasi Terakhir
Di akhir pembicaraan, pesannya sederhana namun mendasar. Semua upaya ini mustahil tercapai tanpa persatuan dan konsolidasi yang solid. Itulah fondasi utama membangun kekuatan ekonomi bangsa.
Harapannya jelas: seluruh ikhtiar ini bisa mengantarkan Indonesia menuju cita-cita besarnya sebagai negara maju dan tangguh di 2045. Jalan masih panjang, tapi langkah awal harus segera diayunkan.
Artikel Terkait
Persis Solo vs Persebaya Berakhir Imbang 0-0, Peluang di Papan Atas dan Bawah Masih Terbuka
Liverpool dan Chelsea Imbang 1-1 di Anfield, Gol Gravenberch Dibalas Enzo Fernandez
Trump Ancang-Ancang Perluas Operasi Militer di Selat Hormuz Jika Negosiasi dengan Iran Gagal
Prabowo: Makan Bergizi Gratis Tidak Dipaksakan untuk Anak dari Keluarga Mampu