Rupiah Terperosok ke Rp18.187 per Dolar AS, Tertekan Konflik Timur Tengah dan Data AS

- Senin, 08 Juni 2026 | 16:20 WIB
Rupiah Terperosok ke Rp18.187 per Dolar AS, Tertekan Konflik Timur Tengah dan Data AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali terperosok pada akhir perdagangan Senin, dengan pelemahan mencapai 151 poin atau sekitar 0,84 persen ke level Rp18.187 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang Garuda ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang kembali memanas, serta data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi pasar.

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa sentimen negatif berasal dari ketegangan geopolitik pasca serangan Israel di Lebanon. Situasi semakin genting setelah laporan media lokal menyebutkan suara ledakan terdengar di Teheran, Tabriz, dan Isfahan pada Senin pagi. Peristiwa ini, menurut Ibrahim, mengikis harapan pasar akan segera berakhirnya konflik yang lebih luas dan kembalinya aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz.

Israel mengklaim telah menyerang pabrik petrokimia di barat daya Iran, bersamaan dengan serangan terhadap target militer lainnya. Langkah ini terjadi meskipun Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan telah meminta Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk menahan diri dari serangan lebih lanjut. Iran, pada hari sebelumnya, membalas dengan menembakkan rentetan rudal ke arah Israel. Meskipun demikian, Trump bersikeras bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang masih sangat mungkin tercapai.

Di sisi lain, fundamental ekonomi Amerika Serikat menunjukkan kekuatan yang tak terduga. Data Non-Farm Payroll (NFP) pada bulan Mei mencatat penambahan 172 ribu lapangan kerja, jauh di atas perkiraan analis yang hanya 85 ribu. Angka penggajian bulan April juga direvisi naik menjadi 179 ribu dari sebelumnya 115 ribu, sementara tingkat pengangguran tetap stabil di angka 4,3 persen. Laporan ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan ini memperkuat argumen bagi bank sentral AS, The Fed, untuk mempertahankan suku bunga atau bahkan menaikkannya guna mengantisipasi dampak inflasi dari harga energi yang lebih tinggi. Fokus pasar minggu ini tertuju pada data inflasi terbaru berupa Indeks Harga Konsumen AS yang akan dirilis pada Rabu.

Dari dalam negeri, kegelisahan pasar dipicu oleh agenda pengeluaran besar-besaran pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Program-program seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih dinilai berpotensi memperlebar defisit neraca transaksi berjalan. Pelebaran defisit ini terjadi seiring menyusutnya surplus perdagangan Indonesia. Pemerintah juga dihadapkan pada beban subsidi bahan bakar minyak yang membengkak akibat lonjakan harga minyak mentah setelah potensi penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Kondisi ini meningkatkan kebutuhan dolar AS dan memperbesar beban utang pemerintah.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa mencapai 144,9 miliar dolar AS pada akhir Mei 2026, atau setara dengan Rp2.590,2 triliun. Angka ini menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 146,2 miliar dolar AS. Jika ditelusuri data historis, posisi cadangan devisa tersebut merupakan rekor terendah sejak Juni 2024, atau dalam 23 bulan terakhir. Meskipun demikian, posisi cadangan devisa itu setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.180 hingga Rp18.230 per dolar AS.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar