Ketua PGI Sebut Video Ceramah Jusuf Kalla Dipelintir untuk Adu Domba Umat Beragama

- Jumat, 24 April 2026 | 00:00 WIB
Ketua PGI Sebut Video Ceramah Jusuf Kalla Dipelintir untuk Adu Domba Umat Beragama

JAKARTA Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Jacklevyn Manuputty, dengan tegas meminta publik untuk tidak mudah percaya pada potongan video ceramah Wakil Presiden ke-10 dan 12, Jusuf Kalla (JK), yang belakangan viral. Menurutnya, video itu sudah dipelintir. Ia menyampaikan hal ini usai bertemu langsung dengan JK di kawasan Brawijaya, Jakarta Selatan, pada Kamis (23/4/2026).

Bagi Jacklevyn, apa yang beredar di media sosial itu bukanlah rekaman utuh. Ada bagian yang sengaja dipotong. Tujuannya? Tidak lain untuk mengadu domba antarumat beragama. “Video itu dipotong dan dipelintir,” ujarnya singkat.

Ia lalu menjelaskan, ceramah JK sebenarnya bisa dipahami dengan sangat jelas apalagi olehnya yang dulu terlibat langsung dalam proses perdamaian di Ambon, Maluku, dan Poso. Istilah “syahid” yang dipakai JK, menurut Jacklevyn, tidak lantas menggeser makna “martir” dalam tradisi Kristen. Dua kata itu, meski dari tradisi berbeda, pada dasarnya bicara soal pengorbanan.

“Kalaupun bilang martir, kami juga melakukan melampaui apa yang selalu disebut sebagai martir di dalam konflik. Saling membantai, saling membunuh dengan kondisi yang mungkin tidak pernah dibayangkan,” katanya.

Ia menambahkan, dalam situasi konflik, istilah seperti syahid atau martir kerap diselewengkan. Apalagi ketika agama dijadikan senjata oleh pihak-pihak yang bertikai. “Di situ kita lihat bagaimana ketika agama diambil sebagai senjata di tangan untuk pihak-pihak yang bertikai, maka kehancurannya sangat luar biasa,” ucapnya.

Namun begitu, Jacklevyn menekankan bahwa substansi ceramah JK justru sebaliknya. Bukan untuk membakar api permusuhan, melainkan sebagai pengingat. Agama harus kembali pada misi mulianya: sebagai agen perdamaian, bukan agen konflik. “Saya kira substansi itu yang harus kita angkat. Untuk kembali meletakkan agama dalam panggilan dan misi mulianya sebagai agen perdamaian, bukan agen konflik. Ini betul-betul mengingatkan itu jangan lagi terulang,” katanya.

Di sisi lain, ia meminta masyarakat tidak gampang terhasut oleh isu-isu agama yang sengaja dipelintir. Apalagi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. “Kami selalu katakan sebagai teman-teman yang mengalami itu langsung di lapangan, jangan mudah untuk terhasut agama,” ujarnya.

Pertemuan malam itu, menurut Jacklevyn, bukan sekadar silaturahmi biasa. Lebih dari itu, ia menyebutnya sebagai upaya memperkuat dialog dan merajut kebangsaan. “Dari level pimpinan sampai level grassroots, di level komunitas,” pungkasnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar