Anggota DPR Desak BRIN Kembalikan Peneliti ke Daerah

- Selasa, 27 Januari 2026 | 20:12 WIB
Anggota DPR Desak BRIN Kembalikan Peneliti ke Daerah

Dalam rapat di Gedung DPR, Selasa lalu, suara Muslimin Bando dari Fraksi PAN terdengar cukup vokal. Anggota Komisi X ini mendesak agar petugas BRIN dikembalikan ke daerah. Intinya, riset dan inovasi nggak boleh cuma jadi bahan bacaan di jurnal atau arsip semata.

Rapat Dengar Pendapat itu menghadirkan langsung Kepala BRIN, Arif Satria. Suasana cukup cair, tapi pokok pembicaraannya serius. Muslimin merasa, selama ini ada jarak yang menganga antara BRIN dengan masyarakat, terutama di daerah-daerah.

"Yang terasa bagi kami selama ini ialah kami berjauhan dengan petugas BRIN begitu," ujarnya.

"Jadi di mana kita harus mengadu? Di mana kita harus bertanya?"

Pertanyaannya itu sederhana, tapi menyentuh persoalan mendasar. Menurutnya, hasil riset harusnya bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Bukan cuma teori.

"Cuma saja hasil riset dan inovasi yang kita hasilkan ini, Ini kan bukan sekadar untuk kepentingan penelitian, tetapi untuk dimanfaatkan, dilaksanakan oleh masyarakat misalnya dalam bidang-bidang perkebunan bidang-bidang pertanian, perikanan, perkebunan obat-obatan, bibit dan sebagainya," jelas Muslimin.

Ia lantas menyinggung sebuah kebijakan yang menurutnya jadi pangkal masalah: penarikan semua petugas BRIN ke pusat beberapa tahun silam. Muslimin mempertanyakan alasan di balik keputusan itu dan mendorong agar petugas disebar kembali.

"Karena kebijakan tahun-tahun kemarin ditarik semua ke Jakarta sini itu petugas BRIN," katanya.

"Tapi mohon maaf ini kalau sudah dikembalikan semua, ini saya mau tanya kepada Prof di [gedung] Habibie kemarin itu kami sudah pertanyakan, bagaimana kalau dikembalikan ke daerah petugas-petugas itu sehingga kalau kami mau bertanya dekat-dekat kami bertanya."

Argumennya cukup jelas. Kalau tujuannya cuma penelitian murni, ya wajar kalau dipusatkan di Jakarta. Tapi realitanya berbeda. Untuk mendongkrak pengembangan daerah, kehadiran peneliti dan ahli di lapangan itu mutlak. Mereka harus bisa diakses, bisa diajak diskusi oleh petani, nelayan, atau pengusaha kecil.

"Kalau hanya untuk penelitian saja hasil riset kita biarlah saja di pusat," tegasnya.

"Tetapi kalau mau pengembangan daerah dan dimanfaatkan betul oleh daerah dekatkan orang-orang kita di sana untuk tempat bertanya sehingga nanti betul-betul dirasakan oleh masyarakat."

Poinnya sederhana: biarkan ilmu dan ahlinya turun ke tanah, di mana masalah sesungguhnya berada. Baru kemudian solusi bisa tumbuh.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler