Sabtu lalu di Kemayoran, suasana panas terik tiba-tiba berubah mencekam bagi Sudrajat. Pedagang es gabus berusia 50 tahun itu didatangi oleh anggota Bhabinkamtibmas dan Babinsa di tempat ia biasa berjualan. Mereka punya tuduhan yang aneh: es gabus jualan Sudrajat katanya terbuat dari spons.
Adegan yang kemudian viral itu sungguh memilinkan. Es gabus itu diremas-remas oleh aparat hingga cairannya tumpah ke lantai. Sisa es yang dituduh sebagai spons itu, alih-alih diperiksa lebih lanjut, malah dijepit dan dijebloskan paksa ke mulut Sudrajat sendiri.
Beberapa hari kemudian, ketakutan masih membayangi Sudrajat saat ditemui di rumahnya yang sederhana di sebuah gang di Bojonggede, Bogor. Ia mengaku trauma dan tak berani lagi kembali berjualan ke Kemayoran.
"Begini, dia (aparat) beli es kue. Kata polisi, 'Bang es kue, Bang, beli empat.' Terus dibejek-bejek, terus dilempar kena saya es kuenya," ujar Sudrajat memulai ceritanya, Selasa (27/1).
Ia menggambarkan situasi yang semakin kacau. Orang-orang mulai berkerumun, termasuk perangkat RT, RW, hingga lurah. Di tengah kerumunan itulah, kekerasan fisik terjadi.
"Iya, saya digampar, ditonjok semua, ditendang," katanya dengan suara bergetar.
"Saya ditonjok, ditendang pakai sepatu bot. Sampai terpental. Enggak ada minta maaf sama sekali semuanya, enggak ada," lanjutnya.
Padahal, Sudrajat berulang kali berusaha membela diri. Ia bersikeras barang jualannya adalah es sungguhan. "Bukan kayak kapas bedak, ini es asli, es kue," ujarnya mencoba meyakinkan. Sayangnya, penjelasan itu tak digubris.
Perlakuan tak berhenti di situ. Ia bahkan disuruh berdiri dengan satu kaki diangkat, sebuah hukuman yang mempermalukan di depan umum.
Artikel Terkait
Selat Hormuz: Ketika Ancaman Lebih Berbahaya Daripada Serangan Itu Sendiri
Gempa 4,4 Magnitudo Guncang Bantul, Trauma 2006 Kembali Terasa
Kampung Haji Indonesia di Makkah: Dari Penginapan Jadi Pusat Dagang Global
Korupsi Kuota Haji: Ulah Oknum atau Cacat Sistem yang Berkepanjangan?