Desember 2024, misalnya, ia bertemu Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi. Pembicaraan mereka berpusat pada kerja sama nyata untuk perdamaian Gaza. “Dan tentunya kami mendukung kemerdekaan Palestina dan solusi dua negara,” ungkap Prabowo usai pertemuan.
Namun begitu, langkahnya tak berhenti di sana. April 2025, ia melanjutkan diplomasi ke Uni Emirat Arab dan Turki. Di hadapan Parlemen Turki, pidatonya bernada lebih personal dan menggugah. Ia mengajak negara-negara yang punya keberanian untuk bersama-sama membela keadilan.
suaranya bergema di ruang sidang.
Panggung yang lebih besar pun ia masuki. Pada Sidang Umum PBB ke-80 di New York, September 2025, Prabowo kembali menyuarakan hal serupa dengan penekanan yang matang. Ia menegaskan bahwa solusi dua negara adalah satu-satunya jalan.
paparnya di hadapan dunia.
Gelombang diplomasi terus berlanjut. Oktober 2025, ia hadir di Sharm El Sheikh, Mesir, menyaksikan momen penandatanganan kesepakatan penghentian perang. Lalu, di tengah salju Davos pada Januari 2026, Prabowo ikut menandatangani piagam Board of Peace dalam forum World Economic Forum. Badan ini dirancang untuk mengawal masa transisi dan rekonstruksi Gaza pasca konflik sebuah komitmen jangka panjang.
Semua rangkaian itu, dari satu pertemuan ke pertemuan lain, menunjukkan satu hal: bagi Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo, isu Palestina bukan sekadar bahan pernyataan. Ia adalah prioritas kebijakan luar negeri yang nyata, diperjuangkan lewat dialog dan kerja sama tanpa lelah. Sebuah upaya untuk menciptakan ketertiban, setidaknya, di satu sudut dunia yang terus terluka.
Artikel Terkait
Makam Terendam, Ziarah Terhalang: Banjir Kembali Melanda TPU Mangun Jaya Bekasi
Muslim Arbi: Prabowo Bisa Dapat Dukungan Publik dengan Revisi Posisi Polri
Es Gabus Dituduh Spons, Pedagang Bogor Dipaksa Makan Dagangannya Sendiri
Kuasa Hukum Tantang Eggi Cs: Saya Tunggu Nyali Anda di Sidang