Dampaknya jauh lebih luas. Pejabat dan elite bisnis seharusnya jadi panutan. Ketika mereka berperilaku tanpa malu, pesan yang tersampaik ke masyarakat sangat berbahaya: norma bisa ditawar asal punya kuasa. Akibatnya, rasa malu malah dianggap sebagai kelemahan. Keberanian mengambil risiko moral sekalipun itu curang dipuji, sementara kehati-hatian etis dicap tidak realistis. Korupsi pun berubah dari penyimpangan jadi kebiasaan yang diterima.
Jaya Suprana bahkan melihat ini sebagai akar krisis peradaban. Terorisme, kerakusan ekonomi, kebencian massal semua itu gejala manusia yang kehilangan kontrol batin. Dalam konteks kita, korupsi yang masif dan vulgar adalah manifestasi yang sama: keberanian tanpa nurani.
Parahnya, hilangnya rasa malu ini menggerogoti kepercayaan publik. Masyarakat jadi sinis. Mereka terbiasa melihat pejabat korupsi tanpa penyesalan, sehingga lambat laun muncul apati. Yang lebih mengkhawatirkan, generasi muda bisa menyerap pesan keliru bahwa sukses bisa diraih tanpa integritas. Rantai pendidikan moral terputus.
Di sisi lain, malumologi mengkritik paradigma modern yang terobsesi pada regulasi eksternal, tapi mengabaikan penguatan etika dari dalam. Penegakan hukum itu penting, ya jelas. Tapi tanpa rasa malu, hukum cuma jadi rintangan untuk dicari celahnya, bukan nilai yang dihormati.
Jadi, apa yang harus dilakukan? Barangkali yang paling mendesak sekarang bukan cuma membangun sistem baru, tapi membangun kembali kepekaan batin kita. Belajar malu lagi. Ini bukan langkah mundur, melainkan kembali ke akar kemanusiaan kita.
Bangsa yang besar butuh cara pandang baru, inovasi, sistem canggih. Tapi semua itu harus tetap berakar pada nilai-nilai fundamental. Seperti diingatkan Jaya Suprana, cara pandang baru tanpa rasa malu cuma akan melahirkan kesombongan yang dilembagakan.
Pada akhirnya, krisis korupsi yang kita hadapi ini bukan semata krisis hukum. Ini adalah krisis rasa malu. Selama rasa malu belum dipulihkan, aturan seketat apapun akan mudah dilangkahi. Malumologi mengingatkan kita: kemajuan sejati bukan cuma soal melaju kencang, tapi juga tentang menjaga arah dan martabat.
Mungkin sudah waktunya kita merenung. Masihkah kita mampu merasa malu?
Artikel Terkait
Prabowo di Dewan Perdamaian Trump: Diplomasi atau Pengkhianatan Prinsip?
Iran Siaga Perang Total, Balas Setiap Serangan AS
Sudan Terbelah, Darurat Kemanusiaan, dan Panggilan bagi Indonesia
Trump Bentuk Dewan Perdamaian, 10 Alasan Mengapa Langkah Ini Dianggap Bermasalah