Gading Serpong Digerebek, Sindikat Love Scam Pakai AI dan Model Asing Terbongkar

- Senin, 26 Januari 2026 | 20:06 WIB
Gading Serpong Digerebek, Sindikat Love Scam Pakai AI dan Model Asing Terbongkar

Kasus penipuan cinta atau love scamming terus merajalela. Ribuan orang sudah terjebak, dengan kerugian yang ditaksir mencapai puluhan miliar rupiah. Sungguh angka yang fantastis dan memilukan.

Bayangkan suasana ini: di lantai dua sebuah rumah mewah di kawasan Gading Serpong, Tangerang, beberapa pria asyik menatap layar ponsel dan komputer. Mereka begitu fokus, sampai-sampai tak menyadari kedatangan petugas dari Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) yang tiba-tiba menyergap.

"Hands up!" teriak salah satu petugas. Barulah mereka kaget. Dengan refleks, tangan diangkat. Beberapa dari mereka bahkan hanya mengenakan piyama atau bertelanjang dada saat digelandang keluar ruangan. Total, ada 14 orang yang diamankan dalam penggerebekan tanggal 8 Januari 2026 itu.

Yang menarik, masalahnya bukan cuma soal izin tinggal. Dari 14 orang tersebut 13 warga Tiongkok dan 1 warga Vietnam ternyata sedang menjalankan operasi love scamming. Fakta itu terkuak dari percakapan di perangkat mereka. Bahkan, petugas menemukan foto dan video intim yang diduga hasil panggilan video call sex dari para korban. Rekaman itulah yang kemudian dipakai untuk memeras.

Korbannya kebanyakan warga Korea Selatan yang tinggal di luar Indonesia. Modusnya? Pelaku mengumpulkan data calon korban, diduga dari pasar gelap. Lalu, mereka menggunakan aplikasi Telegram yang disambungkan ke sistem AI bernama Hello GPT. AI inilah yang bisa membalas pesan secara otomatis, menipu korban seolah sedang diajak bicara oleh manusia sungguhan.

“Pelaku menghubungi calon korban dengan mengaku sebagai seorang wanita muda dan membangun hubungan emosional, mengirimkan pesan, dan berkomunikasi secara intens,” jelas Plt Direktur Jenderal Imigrasi Kemenimipas, Yuldi Yusman, di Jakarta pada Senin (19/1).

Namun begitu, penggerebekan di Gading Serpong itu bukan akhir cerita. Setelah menganalisis barang bukti dengan perangkat lunak forensik digital Cellebrite, petugas menemukan lokasi operasi lain. Hingga 16 Januari, sudah 27 WNA yang diamankan dari satu sindikat yang sama, tersebar di Tangerang dan Tangerang Selatan.

“Sindikat ini dikendalikan oleh jaringan lintas negara. Pendanaan diduga berasal dari seorang penyandang dana di Tiongkok berinisial ZH. Sedangkan operasional harian di Indonesia dipimpin oleh ZK sebagai bos besar, dengan pelaksana lapangan berinisial ZJ (alias Titi) serta pasangan suami istri CZ dan BZ,” papar Yuldi.

Modus yang Makin Beragam dan Canggih

Rupanya, ‘pabrik’ penipuan semacam itu bukan cuma satu. Belum genap sebulan sebelumnya, tepatnya 5 Januari, polisi menggerebek sebuah ruko di Jalan Gito-Gati, Sleman, Yogyakarta. Skalanya jauh lebih besar.

Sebanyak 64 orang diamankan dari sebuah perusahaan bernama PT ATSCY. Enam di antaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Yang mencengangkan, perusahaan ini kerap membuka lowongan kerja di media sosial dengan gaji menggiurkan, Rp 3 hingga 6 juta per bulan. Mereka beroperasi bak perusahaan profesional, menargetkan korban di AS, Kanada, Australia, dan Inggris.

Para karyawan disuruh berperan sebagai perempuan, membujuk korban untuk membeli koin di aplikasi kencan daring. Imbalannya? Korban diberi akses konten pornografi. Pola kerja yang terstruktur rapi ini mirip dengan cerita Adam bukan nama sebenarnya yang pernah terjebak jadi operator love scam di Myanmar.

Adam mengaku direkrut dengan janji kerja sebagai customer service Amazon. Nyatanya, ia dipaksa jadi penipu. Setiap hari hampir 20 jam, ia harus menjalankan peran sebagai wanita kaya raya pemilik bisnis kakao dari Amerika.

“Kita bekerja (menyamar) sebagai wanita …punya usaha cocoa (kakao). Kita juga menjalankan investasi jangka pendek. Cerita: setiap bulan kita itu dengan tim pasti pergi ke panti asuhan untuk kegiatan sosial,” ungkap Adam.

Modusnya halus. Ia punya naskah lengkap untuk membangun kepercayaan. Baru setelah korban terikat secara emosional, ajakan berinvestasi kripto mulai dilontarkan. Lalu, bagaimana jika korban minta bukti via video call? Mereka punya solusi.

“Jadi kita nge-arrange untuk si modelnya itu. Kita pergi ke ruang model, baru mereka ngobrol sama model kita,” tutur Adam.

Model-model yang kebanyakan dari Rusia atau China itu dibayar khusus untuk berakting. Mereka akan mengaku berdarah campuran Amerika-Malaysia untuk menutupi aksen asing.

Mengapa Bisa Marak di Indonesia?


Halaman:

Komentar