Ketiganya hidup di waktu dan ruang yang sama, ketika kaum progresif sedang mengumpulkan kekuatan untuk melawan kolonialisme. Mereka adalah teladan bahwa kemerdekaan adalah kerja kolektif yang lintas etnis.
Dokter Soetomo, misalnya, punya sikap yang teguh. Saat memimpin harian Soeara Oemoem di Surabaya, ia mendapat tekanan dari sebagian kalangan nasionalis karena memasukkan AR Baswedan (peranakan Arab) dan Tjoa Tjie Liang (peranakan Tionghoa) ke dalam redaksi. Di Batavia, harian Bintang Timoer ikut menyerang, menyebut keputusan Soetomo sebagai kesalahan besar karena membawa “bangsa asing”.
Tapi sikap Soetomo sekukuh karang. Ia tetap mempertahankan kedua rekannya itu.
Memang, pemerintah kolonial saat itu dengan jelas menyemai rasisme lewat kebijakan yang mengkotak-kotakkan warga berdasarkan etnis. Stereotip terhadap kelompok tertentu sebagai “liyan” juga sudah ada. Namun ketiga tokoh ini menjalani legasi yang sama: melawan arus.
Baswedan, contohnya, berhasil membidani “Sumpah Pemuda Keturunan Arab” di Semarang, 4 Oktober 1934. Sumpah yang menegaskan Indonesia sebagai tanah air mereka, bukan Hadramaut. Langkah berani ini menolak kebijakan diskriminatif Belanda sekaligus menyatakan keberpihakan pada republiken. Tentu saja, pilihannya ini membuatnya dibenci sebagian kalangan totok, tapi disayangi kaum peranakan.
Liem Koen Hian menghadapi tantangan yang mungkin lebih pelik. Ia gigih meyakinkan komunitas Tionghoa yang terpecah untuk terlibat dalam perjuangan melawan penjajah. Gagasannya tentang Indonesierschap kewarganegaraan Indonesia yang terasimilasi ditentang keras oleh kalangan oportunis dan loyalis pro-Belanda.
Bagi Liem, bekerja sama dengan Belanda tak akan menyamakan posisi mereka dengan warga Eropa. Satu-satunya jalan adalah bergabung dengan pergerakan untuk Indonesia merdeka yang bebas diskriminasi.
Kisah pertemuan mereka pun unik. Di lapangan sepak bola Pasar Turi, Surabaya, dua pemuda bertemu: Liem Koen Hian yang tinggi besar dan bermata sipit, dengan AR Baswedan yang tinggi kurus berhidung mancung. Liem mengajak Baswedan bergabung di surat kabar nasionalis Sin Tit Po yang dipimpinnya. Ajakan itu disambut gembira. Jadilah susunan redaksi di harian Tionghoa itu lebih multi-etnis.
Di lapangan yang sama, sedang berlangsung protes terhadap diskriminasi federasi klub sepak bola Eropa. Liem menyerukan boikot dan malah menyelenggarakan pertandingan antar kesebelasan “kulit berwarna”. Aksi ini membuatnya harus mendekam dua bulan di penjara, tapi berhasil. Penonton lebih memilih menyaksikan pertandingan mereka, hingga federasi klub Eropa merugi.
Baswedan banyak belajar dari Liem yang lebih senior. Tapi gaya Liem yang keras dan tak kenal kompromi sering membuat hidupnya tak mulus. Suatu ketika, karena kritiknya yang semakin tajam terhadap Jepang, Liem menjadi buronan. Ia menghilang.
Tak banyak yang tahu, lelaki bertubuh bongsor bersarung dan berkopiah yang menginap di rumah AR Baswedan itu adalah Liem Koen Hian sendiri. Untuk sekian lama, Baswedan dengan berani menyembunyikan sang pendiri Partai Tionghoa Indonesia itu dari incaran Jepang.
Zaman terus bergulir. Sidang BPUPKI, PPKI, bom atom di Jepang, proklamasi kemerdekaan. Sayangnya, inilah awal duka bagi Liem. Negara yang ia bayangkan sebagai keluarga besar yang hangat ternyata tak sebersahabat itu. Sidang BPUPKI menolak gagasan asimilasi Indonesierschap-nya. Penolakan ini tentu sangat menusuk hatinya.
Kekecewaan Liem di kemudian hari memang banyak diceritakan. Tapi itu semua tak mengurangi jasanya. Ia, bersama Baswedan dan dokter Soetomo, adalah teladan nyata perlawanan terhadap rasisme dan diskriminasi. Figur yang justru sangat relevan untuk dikenang sekarang, ketika sentimen rasial muncul kembali dalam politik kita.
Ya, sudah saatnya elite politik sekarang meneladani ketegasan mereka. Melawan rasisme dan diskriminasi bukan hanya tugas negara, tapi bukti kematangan demokrasi kita yang sesungguhnya. Perlindungan terhadap kaum minoritas adalah ukurannya.
Artikel Terkait
KPK Bongkar Aliran Uang Travel Haji ke Oknum Kemenag
KPK Selidiki Pengepul Dana Kuota Haji di Balik Skema Kemenag
Mobil Selamat dari Reruntuhan, Kisah Hussein Mengantar Harapan di Gaza
Lanskap Terlalu Ringkih, KLHK Buru-buru Evaluasi Tata Ruang di 5 Provinsi