Begitu tegas Listyo Sigit. Kalimat itu lagi-lagi disambut gemuruh tepuk tangan. Ia bahkan menegaskan penolakannya untuk menduduki jabatan menteri apa pun yang bertugas membawahi Polri. Pesannya jelas, dan terasa sangat telak bagi pihak-pihak yang selama ini mengusulkan perubahan.
Namun begitu, di balik ketegasan ini, ada realitas pahit yang tak bisa diabaikan. Justru dalam konfigurasi seperti inilah kerusakan di tubuh Polri kerap muncul ke permukaan. Janji untuk melayani dan mengayomi seringkai hanya jadi cerita. Masyarakat malah cenderung menghindari kontak dengan Polri, takut urusannya berlarut dan menguras kantong. Belum lagi soal politisasi, di mana institusi ini kerap ditarik untuk memenangkan kepentingan kelompok tertentu.
Situasinya sampai membuat banyak orang putus asa, bertanya-tanya: masih adakah cara untuk memperbaiki institusi ini?
(Erizal)
Artikel Terkait
IKA Unhas Salurkan Bantuan ke Warga Terdampak Banjir di Barombong
Mantan Kekasih Diamankan Diduga Tewaskan Mahasiswi di Dumai
Ketua Komisi VIII Tak Sadar Ada Upaya Pengkondisian Pansus Haji oleh Yaqut
Kelme Luncurkan Jersey Timnas Indonesia dengan Teknologi Jacquard dan Emblem Silikon 3D