Begitu tegas Listyo Sigit. Kalimat itu lagi-lagi disambut gemuruh tepuk tangan. Ia bahkan menegaskan penolakannya untuk menduduki jabatan menteri apa pun yang bertugas membawahi Polri. Pesannya jelas, dan terasa sangat telak bagi pihak-pihak yang selama ini mengusulkan perubahan.
Namun begitu, di balik ketegasan ini, ada realitas pahit yang tak bisa diabaikan. Justru dalam konfigurasi seperti inilah kerusakan di tubuh Polri kerap muncul ke permukaan. Janji untuk melayani dan mengayomi seringkai hanya jadi cerita. Masyarakat malah cenderung menghindari kontak dengan Polri, takut urusannya berlarut dan menguras kantong. Belum lagi soal politisasi, di mana institusi ini kerap ditarik untuk memenangkan kepentingan kelompok tertentu.
Situasinya sampai membuat banyak orang putus asa, bertanya-tanya: masih adakah cara untuk memperbaiki institusi ini?
(Erizal)
Artikel Terkait
Ribuan Tahun Siksa Barzakh, Firaun Masih Antre 50.000 Tahun di Padang Mahsyar
Pulih Total, Sekolah di Tiga Provinsi Sumatera Kembali Berdenyut
Gus Alex Ditahan Usai Pemeriksaan, Kasus Kuota Haji Tembus Rp 1 Triliun
DPR Tegaskan Polri Tetap di Bawah Presiden, Wacana Kementerian Ditutup