Namun begitu, tugas mereka tak cuma soal vaksinasi. Ada aspek lain yang tak kalah penting: pemulihan psikologis. Bencana tentu meninggalkan luka, terutama bagi anak-anak. Untuk itu, para relawan juga memberikan pendampingan trauma healing.
“Kita juga lakukan trauma healing, cukup banyak sekitar 30 setiap batch kita kirim,” ucap Budi.
“Itu psikiater-psikiater klinis untuk bisa menghibur anak-anak yang ada di sana.”
Hingga saat ini, jumlah tenaga kesehatan yang telah dikirimkan ke lapangan mencapai sekitar 6.100 orang. Mereka bertugas secara bergilir, setiap dua minggu sekali, menjaga keberlangsungan layanan.
“Ada 6.100 kita sudah kirim. Ini muter setiap dua minggu. Jadi sekarang sudah turun ke 500-600-an, selalu ada di sana ya,” jelasnya.
Kehadiran mereka dipusatkan di posko-posko pengungsian dan juga desa-desa yang masih terisolasi, menjadi ujung tombak layanan kesehatan di tengah situasi yang belum pulih benar.
Artikel Terkait
Tangan Terikat, Guru SD Tewas: Pelaku Diduga Teman Dekat Masih Buron
Fidan: Dewan Perdamaian Gaza Bisa Jadi Titik Balik Bersejarah
Dukungan Publik untuk E-Voting Capai 69%, Pemerintah dan DPR Masih Kaji Risiko
Warga Geram: Penjambretan Terjadi, Polisi Tak Ada, Rakyat Malah Jadi Tersangka