Mungkin itu sebabnya, reaksi PKS terhadap kelahiran partai baru Anies terasa sangat dingin. Hampir tak ada komentar resmi. Para kadernya di media sosial juga memilih diam. Diam yang penuh tanya: apakah ini strategi, atau justru pertanda kecemasan?
Sebenarnya, PKS bukan baru pertama kali diuji. Dulu, saat Partai Gelora bentukan Anis Matta berdiri, banyak yang meramalkan suara PKS akan tergerus. Nyatanya? Tidak. Malah suara mereka bertambah signifikan.
Tapi begitu, ada catatan penting. Ketahanan PKS waktu itu lebih karena mereka memilih mendukung Anies Baswedan. Sementara Partai Gelora justru berani mendukung Prabowo. Jadilah PKS leluasa memungut suara dari pemilih yang mayoritas pro-Anies, tanpa pesaing berarti.
Sekarang pertanyaannya beda. Bagaimana jika Anies sendiri yang jadi pesaing? Saat Pemilu 2029 nanti, akankah PKS bisa melewati ujian ini? Mereka selamat dari Anis Matta, tapi apakah akan sama beruntungnya menghadapi Anies Baswedan?
Mustahil rasanya PKS akan ikut-ikutan mendukung Anies melalui Partai Gerakan Rakyat. Itu namanya bunuh diri politik menyerahkan suara mereka dengan sukarela.
Tapi pilihan lain juga berisiko. Kalau PKS malah mendukung Prabowo di 2029, apa jadinya? Bisa-bisa suara mereka justru lari ke partai Anies. Agaknya, PKS harus segera turun ke basis. Mereka perlu menjelaskan, kenapa harus berpisah jalan dengan Anies Baswedan.
Kelebihan dan kekurangan Anies mestinya sudah jadi bahan diskusi di setiap tingkatan kader. Kasus anak petinggi yang pindah ke PSI harus jadi pelajaran. Jangan sampai terulang lagi. Begitulah kira-kira.
Artikel Terkait
Kelme Luncurkan Jersey Timnas Indonesia dengan Teknologi Jacquard dan Emblem Silikon 3D
IHSG Melemah 0,37%, Analis Soroti Potensi Koreksi dan Peluang Penguatan
BSI Gelar Festival Ramadan di Makassar, Tawarkan Diskon Umrah hingga DP 0% Kendaraan
IJTI Peringatkan Perjanjian Dagang RI-AS Ancam Media Nasional