Lantas, apa penyebab utamanya? Salah satunya ya tadi: minimnya pendidikan literasi keuangan sejak dini. Banyak orang baru tersadar saat sudah terlanjur ada masalah; cicilan menumpuk, dipecat dari pekerjaan, atau ada kebutuhan mendadak yang tak terduga. Padahal, kemampuan mengelola uang seharusnya jadi bekal dasar, setara pentingnya dengan bisa baca dan hitung.
Budaya dan tekanan sosial juga punya peran besar. Ada keinginan kuat untuk terlihat sukses dan mapan di mata orang lain. Gelar akademik kadang malah jadi pembenaran untuk gaya hidup yang sebenarnya tak terjangkau. Dalam situasi seperti ini, kesehatan finansial dikorbankan demi pencitraan. Kecerdasan finansial kalah telak oleh hasrat untuk diakui.
Melihat fakta ini, dunia pendidikan perlu introspeksi. Kampus harus mulai menyisipkan materi literasi keuangan tak peduli jurusan apa pun. Mahasiswa butuh bekal nyata untuk menghadapi kehidupan setelah wisuda, di mana mengatur gaji pertama sama pentingnya dengan skill teknis mereka.
Bagi kita secara pribadi, cara pandang perlu diubah. Gelar sebaiknya dilihat sebagai pembuka peluang, bukan jaminan kesuksesan mutlak. Kecerdasan finansial menuntut kerendahan hati untuk terus belajar, disiplin yang ketat, dan keberanian merencanakan masa depan dengan mata terbuka.
Pada akhirnya, kesuksesan finansial tidak diukur dari deretan huruf di belakang nama. Tapi dari kebijaksanaan seseorang mengelola apa yang ia punya. Gelar boleh membuka pintu, tapi kecerdasan mengatur uanglah yang menentukan apakah kita bisa bertahan, berkembang, dan tidur nyenyak tanpa dihantui tagihan.
Artikel Terkait
Kembali Diperiksa KPK, Bos Maktour Bantah Ikat Rombongan Presiden
Makan Gratis Prabowo: Investasi Gizi atau Manuver Politik Menuju 2029?
JPO Daan Mogot Ditambal Darurat Usai Viral di Medsos
Gempa Dangkal M 2,6 Guncang Mandailing Natal Pagi Ini