Plus Minus Prabowo Masuk Dewan Perdamaian Trump, Menurut Pengamat
Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk duduk di Dewan Perdamaian yang digagas Donald Trump memang bikin banyak orang bicara. Di dalam negeri maupun luar, langkah ini disorot tajam. Memang sih, ada peluang strategis yang menggiurkan. Tapi di balik itu, terselip risiko yang nggak bisa dianggap enteng baik secara politik maupun moral.
Menurut pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah, soal ini nggak bisa dilihat secara gampang, hitam atau putih. Ada untung ruginya, dan semuanya harus ditimbang dengan matang dalam konteks kepentingan nasional kita. Apalagi mengingat konstelasi global yang sedang panas dan situasi Palestina-Israel yang terus memanas.
“Dengan bergabungnya Indonesia, Prabowo ingin menegaskan bahwa Indonesia tidak diam, tetapi hadir dalam forum internasional yang membahas perdamaian Palestina,” kata Amir kepada wartawan, Senin (26/1/2026).
Dari sisi positif, Amir melihat ini sebagai cara Indonesia menunjukkan partisipasi aktif. Isu Palestina kan memang jadi salah satu pilar politik luar negeri kita. Kehadiran di forum itu memberi ruang untuk langsung menyuarakan kepentingan rakyat Palestina, setidaknya dari sisi kemanusiaan dan rekonstruksi pascakonflik.
Dari kacamata intelijen, posisi di dalam forum seperti ini berharga. Bisa untuk membaca arah kebijakan negara-negara besar, sekaligus jadi saluran komunikasi informal yang mungkin bisa meredam ketegangan di Timur Tengah.
Di sisi lain, secara geopolitik, nama Indonesia kembali mencuat. Ditampungnya Indonesia dalam dewan yang diisi negara-negara penting menunjukkan bahwa kita masih diperhitungkan. Bukan cuma jadi penonton.
“Indonesia mendapatkan exposure global. Ini penting untuk positioning Indonesia sebagai negara besar di dunia Muslim dan negara berkembang yang punya suara dalam isu perdamaian global,” ujarnya.
Amir menambahkan, dalam dunia diplomasi dan intelijen, kehadiran di forum internasional seringkali bukan cuma soal keputusan resmi. Yang tak kalah penting adalah akses, jaringan, dan informasi strategis yang nggak selalu terbuka untuk umum.
Lebih jauh, ia menilai langkah Prabowo ini bisa dibaca sebagai bagian dari strategi menjaga keseimbangan. Di tengah pengaruh China yang semakin kuat, Indonesia perlu menjaga hubungan baik dengan kekuatan besar lain, termasuk Amerika Serikat.
“Ini sinyal bahwa Indonesia tidak sepenuhnya condong ke satu kekuatan. Ada upaya menjaga keseimbangan antara China dan Amerika Serikat,” kata Amir.
Artikel Terkait
Jembatan Bolong dan Trotoar Hancur: Aksi Pencuri Fasilitas Publik Mengancam Warga Jakarta
IKN di Ujung Tanduk: Kota Megah atau Kota Hantu?
Gelar Bergelimpang, Dompet Menipis: Ironi Lulusan Perguruan Tinggi
Panik di Internal PSI: Ahmad Ali Buru-buru Klarifikasi Soal Gibran Lawan Prabowo