Haru di Ueno Zoo: Panda Pulang, Diplomasi Memudar

- Senin, 26 Januari 2026 | 04:42 WIB
Haru di Ueno Zoo: Panda Pulang, Diplomasi Memudar

Suasana di Ueno Zoo, Tokyo, Minggu lalu, terasa berbeda. Bukan sekadar hari libur biasa. Kerumunan pengunjung yang datang justru dibalut nuansa haru. Mereka datang untuk pamitan. Dua panda kesayangan, Lei Lei dan Xiao Xiao, akan segera pulang ke China.

Kedua panda itu memang bukan milik Jepang. Mereka adalah bagian dari program "diplomasi panda" yang sudah berlangsung lama, sebuah simbol persahabatan antara Tokyo dan Beijing sejak hubungan diplomatik mereka normal di tahun 1972. Namun kini, simbol itu akan pergi.

Para penggemar setia pun datang dengan segala cara untuk mengungkapkan rasa cinta. Ada yang memakai sweter bergambar panda, membawa boneka, atau berbagai aksesori bertema. Tak sedikit pula yang matanya berkaca-kaca, menyaksikan Lei Lei dan Xiao Xiao asyik mengunyah bambu untuk mungkin terakhir kalinya. Pandangan itu adalah momen berharga terakhir sebelum mereka terbang pada Selasa, 27 Januari.

Kepulangan mereka ini tak lepas dari memanasnya hubungan kedua negara belakangan ini. Bulan lalu, komentar keras Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengenai kemungkinan intervensi militer di Taiwan langsung dibalas kemarahan Beijing, yang menganggap pulau itu sebagai wilayahnya. Kembalinya panda pun diumumkan tak lama setelahnya.

Gen Takahashi, seorang warga Tokyo, datang bersama istri dan putri kecilnya yang baru berusia dua tahun. Ia berbagi perasaan campur aduknya.

"Saya merasa melihat panda bisa jadi jembatan untuk menjalin hubungan dengan China juga. Karena itu, saya benar-benar berharap panda bisa kembali ke Jepang suatu hari nanti," ujarnya.

Lalu ia menambahkan, "Anak-anak juga suka panda. Kalau bisa melihatnya langsung di sini lagi, pasti saya akan ajak keluarga datang."

Perasaan senada diungkapkan Mayuko Sumida, seorang pengunjung yang datang jauh-jauh dari Prefektur Aichi. Baginya, kepergian ini terasa seperti kehilangan yang besar.

"Meski tubuhnya besar, gerakannya sangat menggemaskan. Kadang kelakuannya bahkan mirip manusia," kenangnya dengan sedih.

"Jepang akan kehilangan semua pandanya. Ya, rasanya sungguh menyedihkan."

Namun begitu, apakah keputusan ini murni politis? Menurut Masaki Ienaga, profesor ahli hubungan internasional Asia Timur dari Universitas Kristen Wanita Tokyo, mungkin tidak sepenuhnya. Tapi ia melihat simbolisme yang kuat di balik hewan hitam-putih ini.

Ia menjelaskan bahwa meski alasan kepulangannya mungkin teknis, kembalinya panda ke Jepang di masa depan justru akan menjadi penanda yang jelas. Itu akan menjadi simbol nyata bahwa hubungan kedua negara sedang membaik.

"Kalau nanti ada niat dari kedua belah pihak untuk memperbaiki hubungan bilateral, sangat mungkin panda akan kembali menjadi agenda pembicaraan," pungkasnya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar