Perasaan senada diungkapkan Mayuko Sumida, seorang pengunjung yang datang jauh-jauh dari Prefektur Aichi. Baginya, kepergian ini terasa seperti kehilangan yang besar.
"Meski tubuhnya besar, gerakannya sangat menggemaskan. Kadang kelakuannya bahkan mirip manusia," kenangnya dengan sedih.
"Jepang akan kehilangan semua pandanya. Ya, rasanya sungguh menyedihkan."
Namun begitu, apakah keputusan ini murni politis? Menurut Masaki Ienaga, profesor ahli hubungan internasional Asia Timur dari Universitas Kristen Wanita Tokyo, mungkin tidak sepenuhnya. Tapi ia melihat simbolisme yang kuat di balik hewan hitam-putih ini.
Ia menjelaskan bahwa meski alasan kepulangannya mungkin teknis, kembalinya panda ke Jepang di masa depan justru akan menjadi penanda yang jelas. Itu akan menjadi simbol nyata bahwa hubungan kedua negara sedang membaik.
"Kalau nanti ada niat dari kedua belah pihak untuk memperbaiki hubungan bilateral, sangat mungkin panda akan kembali menjadi agenda pembicaraan," pungkasnya.
Artikel Terkait
Jembatan Bolong dan Trotoar Hancur: Aksi Pencuri Fasilitas Publik Mengancam Warga Jakarta
IKN di Ujung Tanduk: Kota Megah atau Kota Hantu?
Gelar Bergelimpang, Dompet Menipis: Ironi Lulusan Perguruan Tinggi
Panik di Internal PSI: Ahmad Ali Buru-buru Klarifikasi Soal Gibran Lawan Prabowo