Emas Tembus USD 5.000, Investor Berlarian ke Safe Haven

- Senin, 26 Januari 2026 | 07:40 WIB
Emas Tembus USD 5.000, Investor Berlarian ke Safe Haven

Harga emas dunia benar-benar meledak lagi. Senin kemarin, logam kuning itu mencatatkan rekor baru yang fantastis, menembus level psikologis USD 5.000 per ons. Ini bukan kenaikan biasa, melainkan kelanjutan dari reli panjang yang semakin agresif sejak awal tahun. Pemicunya? Ketegangan geopolitik global yang memanas, terutama terkait friksi antara AS dan NATO soal Greenland, membuat investor kalang kabut mencari tempat aman.

Di pasar spot, emas menguat 0,75 persen ke posisi USD 5.019,85 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka AS untuk pengiriman Februaripun ikut meroket, naik 0,84 persen ke USD 5.020,60. Situasi ini jelas mendorong para pelaku pasar untuk mengalihkan portofolionya ke aset-aset safe haven, dan emas jadi primadona utama.

Menurut sejumlah saksi di lantai bursa, sentimen bullish masih sangat kuat. Ross Norman, seorang analis independen, bahkan punya proyeksi yang cukup optimis.

"Perkiraan kami tahun ini, emas berpotensi mencapai level tertinggi di USD 6.400 per ons, dengan harga rata-rata sekitar USD 5.375 per ons,"

Kalau kita lihat ke belakang, reli ini sebenarnya lanjutan dari performa impresif sepanjang 2025 lalu. Kala itu, harga emas melonjak sekitar 64 persen! Kenaikan tajam itu ditopang beberapa faktor kunci: pelonggaran kebijakan moneter AS, permintaan gila-gilaan dari bank sentral berbagai negara, plus arus dana deras ke reksadana ETF berbasis emas.

Ngomong-ngomong soal bank sentral, China nampaknya belum kapok. Negeri Tirai Bambu itu tercatat terus membeli emas selama 14 bulan berturut-turut hingga Desember lalu. Langkah ini mempertegas strategi mereka mendiversifikasi cadangan devisa, sebuah langkah bijak di tengah ketidakpastian global yang makin menjadi.

Di sisi lain, pergerakan logam mulia lainnya tampak beragam. Perak spot, misalnya, melesat 2,52 persen ke USD 105,54 per ons. Kenaikan ini mencerminkan kebutuhan industri sekaligus minat spekulatif yang ikut memanas.

Tapi tidak semua cerah. Platinum spot justru melemah tipis 0,03 persen, berada di angka USD 2.766,30 per ons. Sedangkan palladium sedikit lebih beruntung, naik 0,31 persen ke level USD 2.016,25. Jadi, meski emas jadi bintang utama, pasar logam mulia secara keseluruhan masih menunjukkan dinamikanya sendiri.

Dengan semua faktor ini, tren bullish emas diprediksi masih punya napas panjang. Namun begitu, pasar selalu penuh kejutan. Mari kita tunggu saja babak selanjutnya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar