Harga emas dunia benar-benar meledak lagi. Senin kemarin, logam kuning itu mencatatkan rekor baru yang fantastis, menembus level psikologis USD 5.000 per ons. Ini bukan kenaikan biasa, melainkan kelanjutan dari reli panjang yang semakin agresif sejak awal tahun. Pemicunya? Ketegangan geopolitik global yang memanas, terutama terkait friksi antara AS dan NATO soal Greenland, membuat investor kalang kabut mencari tempat aman.
Di pasar spot, emas menguat 0,75 persen ke posisi USD 5.019,85 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka AS untuk pengiriman Februaripun ikut meroket, naik 0,84 persen ke USD 5.020,60. Situasi ini jelas mendorong para pelaku pasar untuk mengalihkan portofolionya ke aset-aset safe haven, dan emas jadi primadona utama.
Menurut sejumlah saksi di lantai bursa, sentimen bullish masih sangat kuat. Ross Norman, seorang analis independen, bahkan punya proyeksi yang cukup optimis.
Kalau kita lihat ke belakang, reli ini sebenarnya lanjutan dari performa impresif sepanjang 2025 lalu. Kala itu, harga emas melonjak sekitar 64 persen! Kenaikan tajam itu ditopang beberapa faktor kunci: pelonggaran kebijakan moneter AS, permintaan gila-gilaan dari bank sentral berbagai negara, plus arus dana deras ke reksadana ETF berbasis emas.
Artikel Terkait
Jatis Mobile Siapkan Buyback Saham Senilai Rp35 Miliar untuk Stabilisasi Harga
PT Sinar Terang Mandiri (MINE) Catat Laba Rp200,83 Miliar Didorong Proyek Nikel
BULL Tambah Armada dengan Kapal Tanker LNG Kedua, Siap Operasi 2026
Wall Street Turun Tertekan Eskalasi Konflik Iran dan Ancaman Harga Minyak