Di masyarakat kita, gelar sarjana, magister, atau doktor kerap dianggap sebagai tiket menuju kesuksesan finansial. Orang berasumsi, semakin tinggi titelnya, semakin mapan pula keuangannya. Tapi, benarkah begitu kenyataannya? Nyatanya, tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang justru terperosok dalam masalah utang atau hidup tanpa rencana keuangan yang jelas. Gelar akademik ternyata tidak otomatis menjamin kecerdasan dalam mengelola uang.
Lalu, apa sih sebenarnya kecerdasan finansial itu? Bukan cuma soal bisa menghasilkan uang banyak. Lebih dari itu, ini tentang keterampilan mengatur, membagi, dan mengembangkan uang dengan bijak. Mulai dari bikin anggaran, nabung, sampai berani investasi. Yang tak kalah penting: paham risiko dan bisa membedakan mana kebutuhan, mana sekadar keinginan.
Sayangnya, hal-hal praktis semacam ini jarang disentuh dalam bangku kuliah. Pendidikan formal lebih fokus pada teori dan keahlian akademis. Literasi keuangan sering dianggap urusan pribadi, yang katanya bisa dipelajari sendiri nanti. Akibatnya bisa ditebak.
Banyak orang bergaji besar berkat gelar mereka tapi kondisi keuangannya justru rapuh. Gaya hidup seringkali tak terkendali. Begitu gaji naik, pengeluaran ikut melambung. Uang habis untuk cicilan barang-barang, gaya hidup konsumtif, dan memenuhi tuntutan sosial. Alhasil, tabungan atau investasi? Nol besar. Fenomena "besar pasak daripada tiang" ini menunjukkan, gelar mentereng pun bisa gagal melindungi seseorang dari badai finansial.
Di sisi lain, lihat saja mereka yang mungkin tak punya latar belakang pendidikan tinggi. Banyak di antara mereka justru jago mengatur keuangan. Mereka terbiasa menabung sejak muda, sangat berhati-hati kalau berurusan dengan utang, dan tak sungkan mempelajari instrumen investasi. Kecerdasan mereka datang dari pengalaman hidup sehari-hari, kebiasaan, dan kemauan belajar yang tak putus. Ini membuktikan bahwa kecerdasan finansial lebih bersifat praktis, sesuatu yang harus dijalani, bukan cuma teori di kelas.
Artikel Terkait
Jembatan Bolong dan Trotoar Hancur: Aksi Pencuri Fasilitas Publik Mengancam Warga Jakarta
IKN di Ujung Tanduk: Kota Megah atau Kota Hantu?
Panik di Internal PSI: Ahmad Ali Buru-buru Klarifikasi Soal Gibran Lawan Prabowo
Damai Hari Lubis Laporkan Ahmad Khoizinudin ke Polda Metro Jaya Atas Tuduhan Hasutan dan Intervensi Hukum