Buku Hijau di Toko Itu Membawanya Menuju Syahadat

- Minggu, 25 Januari 2026 | 07:00 WIB
Buku Hijau di Toko Itu Membawanya Menuju Syahadat

Dari Bastiaan ke Nourdeen: Sebuah Perjalanan Empat Setengah Tahun Menuju Islam

Kisahnya dimulai dengan sebuah buku hijau di toko. Bukan dengan cahaya gaib atau peristiwa dramatis. Nourdeen Wildeman, pria Belanda yang dulu bernama Bastiaan, menemukan kebenaran Islam lewat jalan yang tak biasa: membaca.

Tanggal 9 Desember 2007 menjadi saksi. Di sebuah masjid di Belanda, ia resmi mengucapkan dua kalimat syahadat. Ayahnya hadir di sana, mendampingi, bahkan mengabadikan momen bersejarah itu. Tapi jalan menuju detik-detik itu panjang. Butuh 4,5 tahun lamanya.

Ini ceritanya, menurut penuturannya langsung.

Hai, saya Wildeman. Dari Belanda. Saya mau cerita soal bagaimana saya jadi seorang Muslim.

Biasanya sih, aku jarang bercerita panjang lebar soal ini. Maksudku, jarang banget aku habiskan waktu khusus buat jelasin ke orang lain proses masuk Islam-ku. Atau lebih tepatnya, 'kembali' ke Islam. Soalnya, kan, semua manusia sebenarnya dilahirkan dalam kondisi fitrah.

Begitulah. Kalau orang tahu kamu jadi mualaf, pertanyaannya itu-itu lagi. Gimana reaksi orang tua? Jatuh cinta sama cewek Muslim? Diterima nggak di komunitas? Tapi yang paling sering ditanyain ke aku: "Kenapa sih masuk Islam?" Anehnya, yang nanya kadang Muslim juga. Agama, itu jawaban standarku.

Ini bukan cerita mobil nabrak pohon terus sadar. Bukan. Nggak ada momen dramatis melihat cahaya. Aku bahkan nggak tahu persis kapan persisnya jadi Muslim. Yang jelas, waktu itu aku nggak lagi cari Tuhan. Nggak lagi galau cari tujuan hidup. Aku cuma lagi pengen baca buku.

Jadi ceritanya, sekitar 2003 atau 2004, aku jalan-jalan ke toko buku. Hobi baca. Minatku waktu itu sejarah, filsafat, sosiologi. Nah, di rak, mataku tertarik sama satu buku sampul hijau. Judulnya "Islam, Nilai-Nilai, Prinsip-Prinsip, dan Realitas".

Aku pegang. Aku amati. Saat itu aku sadar, aku kenal beberapa orang Muslim, tapi sama sekali nggak paham apa yang mereka percayai. Padahal, Islam selalu ada di berita, memengaruhi banyak hal. Akhirnya kuputuskan beli. Ingin tahu agama ini seperti apa.

Tanpa kusadari, langkah ke kasir itu adalah awal dari perjalanan panjang empat setengah tahun. Perjalanan yang ujungnya adalah pengakuan iman.

Sebelum baca, aku punya banyak prasangka. Misalnya, gimana mungkin seorang Muslim yang taat menganggap diri saleh, tapi menindas istrinya? Atau, kenapa mereka menyembah batu kubus di Mekah? Patung kan nggak bisa bantu siapa-siapa. Aku juga nggak paham kenapa mereka terlihat intoleran.

Dengan pikiran penuh tanda tanya itu, kubuka halaman pertama buku hijau tadi.

Dan ternyata, satu buku membawa ke buku lain. Setelah yang kedua, datang yang ketiga. Begitu seterusnya. Bertahun-tahun kemudian, aku sudah baca banyak sekali. Dan aku terkejut.

Aku menemukan bahwa hampir semua hal yang kukira bagian dari Islam dan yang kutentang justru ditentang oleh Islam sendiri. Nabi Muhammad ternyata bersabda, sebaik-baiknya mukmin adalah yang paling baik kepada istrinya. Ternyata Muslim tidak menyembah Ka'bah, mereka justru menolak penyembahan berhala. Ternyata peradaban Islam, sepanjang sejarahnya, adalah contoh toleransi beragama yang luar biasa.

Aku nggak perlu dibujuk untuk menerima banyak ajaran dasar Islam. Soalnya, aku sudah setuju bahkan sebelum membacanya. Seolah-olah aku membaca pendapatku sendiri di dalam buku-buku itu, dan buku-buku itu bilang, "Inilah Islam."

Lingkunganku waktu itu nggak terlalu 'religius'. Aku dapat bantuan cuma ketika aku minta, saat ngobrol dengan orang sekitar. Jadi waktu Ramadan pertama kuputuskan coba puasa, nggak ada buku yang bisa jelasin rasanya. Akhirnya aku mendatangi rekan kerja Muslimku. "Aku mau puasa bareng kalian," kataku.

Kubeli Al-Quran, cari jadwal puasa di internet. Habis Ramadan, aku ke masjid buat bayar zakat. Menurutku, berbuat baik dan menyumbang itu tindakan yang benar, Muslim atau bukan.

Di situlah pertama kali aku ketemu bendahara masjid kotaku. Dia tanya, "Apakah kamu Muslim?"

"Bukan, Pak," jawabku. "Tapi saya puasa Ramadan."


Halaman:

Komentar