Dari Bastiaan ke Nourdeen: Sebuah Perjalanan Empat Setengah Tahun Menuju Islam
Kisahnya dimulai dengan sebuah buku hijau di toko. Bukan dengan cahaya gaib atau peristiwa dramatis. Nourdeen Wildeman, pria Belanda yang dulu bernama Bastiaan, menemukan kebenaran Islam lewat jalan yang tak biasa: membaca.
Tanggal 9 Desember 2007 menjadi saksi. Di sebuah masjid di Belanda, ia resmi mengucapkan dua kalimat syahadat. Ayahnya hadir di sana, mendampingi, bahkan mengabadikan momen bersejarah itu. Tapi jalan menuju detik-detik itu panjang. Butuh 4,5 tahun lamanya.
Ini ceritanya, menurut penuturannya langsung.
Hai, saya Wildeman. Dari Belanda. Saya mau cerita soal bagaimana saya jadi seorang Muslim.
Biasanya sih, aku jarang bercerita panjang lebar soal ini. Maksudku, jarang banget aku habiskan waktu khusus buat jelasin ke orang lain proses masuk Islam-ku. Atau lebih tepatnya, 'kembali' ke Islam. Soalnya, kan, semua manusia sebenarnya dilahirkan dalam kondisi fitrah.
Begitulah. Kalau orang tahu kamu jadi mualaf, pertanyaannya itu-itu lagi. Gimana reaksi orang tua? Jatuh cinta sama cewek Muslim? Diterima nggak di komunitas? Tapi yang paling sering ditanyain ke aku: "Kenapa sih masuk Islam?" Anehnya, yang nanya kadang Muslim juga. Agama, itu jawaban standarku.
Ini bukan cerita mobil nabrak pohon terus sadar. Bukan. Nggak ada momen dramatis melihat cahaya. Aku bahkan nggak tahu persis kapan persisnya jadi Muslim. Yang jelas, waktu itu aku nggak lagi cari Tuhan. Nggak lagi galau cari tujuan hidup. Aku cuma lagi pengen baca buku.
Jadi ceritanya, sekitar 2003 atau 2004, aku jalan-jalan ke toko buku. Hobi baca. Minatku waktu itu sejarah, filsafat, sosiologi. Nah, di rak, mataku tertarik sama satu buku sampul hijau. Judulnya "Islam, Nilai-Nilai, Prinsip-Prinsip, dan Realitas".
Aku pegang. Aku amati. Saat itu aku sadar, aku kenal beberapa orang Muslim, tapi sama sekali nggak paham apa yang mereka percayai. Padahal, Islam selalu ada di berita, memengaruhi banyak hal. Akhirnya kuputuskan beli. Ingin tahu agama ini seperti apa.
Tanpa kusadari, langkah ke kasir itu adalah awal dari perjalanan panjang empat setengah tahun. Perjalanan yang ujungnya adalah pengakuan iman.
Sebelum baca, aku punya banyak prasangka. Misalnya, gimana mungkin seorang Muslim yang taat menganggap diri saleh, tapi menindas istrinya? Atau, kenapa mereka menyembah batu kubus di Mekah? Patung kan nggak bisa bantu siapa-siapa. Aku juga nggak paham kenapa mereka terlihat intoleran.
Dengan pikiran penuh tanda tanya itu, kubuka halaman pertama buku hijau tadi.
Dan ternyata, satu buku membawa ke buku lain. Setelah yang kedua, datang yang ketiga. Begitu seterusnya. Bertahun-tahun kemudian, aku sudah baca banyak sekali. Dan aku terkejut.
Aku menemukan bahwa hampir semua hal yang kukira bagian dari Islam dan yang kutentang justru ditentang oleh Islam sendiri. Nabi Muhammad ternyata bersabda, sebaik-baiknya mukmin adalah yang paling baik kepada istrinya. Ternyata Muslim tidak menyembah Ka'bah, mereka justru menolak penyembahan berhala. Ternyata peradaban Islam, sepanjang sejarahnya, adalah contoh toleransi beragama yang luar biasa.
Aku nggak perlu dibujuk untuk menerima banyak ajaran dasar Islam. Soalnya, aku sudah setuju bahkan sebelum membacanya. Seolah-olah aku membaca pendapatku sendiri di dalam buku-buku itu, dan buku-buku itu bilang, "Inilah Islam."
Lingkunganku waktu itu nggak terlalu 'religius'. Aku dapat bantuan cuma ketika aku minta, saat ngobrol dengan orang sekitar. Jadi waktu Ramadan pertama kuputuskan coba puasa, nggak ada buku yang bisa jelasin rasanya. Akhirnya aku mendatangi rekan kerja Muslimku. "Aku mau puasa bareng kalian," kataku.
Kubeli Al-Quran, cari jadwal puasa di internet. Habis Ramadan, aku ke masjid buat bayar zakat. Menurutku, berbuat baik dan menyumbang itu tindakan yang benar, Muslim atau bukan.
Di situlah pertama kali aku ketemu bendahara masjid kotaku. Dia tanya, "Apakah kamu Muslim?"
"Bukan, Pak," jawabku. "Tapi saya puasa Ramadan."
Dia cuma bilang, "Santai saja. Jangan terburu-buru."
Bulan-bulan berlalu. Aku tetap baca. Banyak buku yang kubaca justru karya non-Muslim, seperti Karen Armstrong. Aku juga baca kritik terhadap Islam. Tentang terorisme, bentrokan peradaban, dan sebagainya.
Namun, untuk setiap pertanyaan, Islam punya jawaban yang meyakinkan. Nggak selalu Muslim yang kujumpai bisa jawab dengan meyakinkan, tapi buku-buku itu memberi pencerahan. Di akhir Ramadan berikutnya, aku kembali ke masjid bayar zakat.
Bendahara itu mengenaliku. Dia tanya lagi, "Sudah Muslim?"
"Belum, Pak. Tapi kan Bapak bilang santai saja?"
Dia geleng-geleng kepala pelan, lalu tersenyum. "Iya, santai. Tapi jangan terlalu santai juga."
Tahun itu jadi tahun terakhirku sebagai non-Muslim. Aku berhenti minum alkohol. Berhenti merokok. Aku coba dorong diri sendiri dan orang lain untuk berbuat baik. Aku liburan ke Turki, kunjungi masjid-masjid besar. Dengan setiap langkah, kehadiran Tuhan dalam hidupku semakin terasa nyata.
Aku pergi ke alam. Untuk pertama kalinya, pemandangan di depanku bukan sekadar pemandangan, tapi tanda-tanda Sang Pencipta. Aku coba-coba shalat, meski caranya masih jauh dari benar. Aku tetap baca, dan sekarang juga mulai jelajahi internet.
Di Hives, media sosial populer Belanda waktu itu, seorang mualaf wanita menghubungiku. Dia tanya apakah aku Muslim. "Belum," jawabku. Dia mengajakku ke rumahnya, bertemu suaminya yang Muslim asal Mesir, yang taat.
Kami makan malam, lalu ngobrol tentang Islam hampir sepanjang malam. Saat kunjungan kedua, atas permintaanku, dia mengajarkanku cara shalat yang benar.
Aku coba praktikkan sebisaku. Dia memperhatikan. Saat jeda, dia bertanya, "Jadi, menurutmu, apakah kamu sudah siap untuk melakukan ini?"
"Ya," jawabku. "Kurasa aku siap."
Di situlah aku sadar. Aku sudah menjadi Muslim. Secara resmi belum, karena syahadat belum diucapkan. Tapi di suatu titik dalam tahun-tahun sebelumnya, hatiku sudah beriman. Sudah percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya. Aku sudah puasa, bayar zakat, dan coba shalat.
Jalanku menuju Islam adalah jalur teori. Lewat buku. Pilihan rasional, bukan emosional. Aku bandingkan informasi, aku renungkan. Dan Islam selalu punya jawaban.
Satu dua minggu kemudian, aku dan dia pergi ke masjid di kotanya. Imam sudah tahu kedatanganku. Ayahku ikut, bawa kamera. Imam membacakan syahadat perlahan. Aku ikuti, kata demi kata. Saat Imam berdoa, saudaraku dari Mesir itu menerjemahkannya ke telingaku.
Rasanya seperti baru saja lari maraton dan mencapai garis finish. Benar-benar kehabisan napas. Perlahan napasku kembali teratur. Tenang. Dan bahagia. Tiba-tiba aku sadar, akhirnya, aku telah menjadi Nourdeen. Cahaya agama.
Beberapa waktu setelahnya, aku ke masjid di kotaku. Saat masuk, bendahara itu kembali kujumpai. Dia menatapku, lalu bertanya lagi pertanyaan yang sama.
"Ya, Pak. Saya Muslim. Nama saya Nourdeen," jawabku sambil tersenyum lebar.
"Alhamdulillah," katanya. Lalu, dengan nada akrab, dia menambahkan, "Akhirnya."
Artikel Terkait
Trump dan Melania Dievakuasi Darurat Usai Penembakan di Acara Makan Malam Wartawan Gedung Putih
Basarnas Cari Perempuan 51 Tahun Hilang di Hutan Battang Barat Palopo
Harga Emas Perhiasan Hari Ini Stabil, Namun Ada Perbedaan Harga Antar Penyedia
Prakiraan Cuaca Makassar 26 April: Siang hingga Sore Hujan Ringan-Sedang, Dini Hari Gerimis